MENGAPA KITA MESTI MENGUCAP SYUKUR?

By Sumiman Saud

“Aku hendak bersyukur kepadaMu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan namaMu untuk selama-lamanya.”
Mazmur 86:12

 
            Ada pepatah mengatakan bahwa hidup manusia itu ibarat sebuah roda yang senantiasa berputar, kadang kita berada pada posisi atas, dan kadang kita berada pada posisi yang bawah. Dengan demikian maka, hidup itu penuh dengan berbagai perubahan, ada kala kita mengalami kesuksesan besar, namun ada kalanya kita mengalami kegagalan besar.  Ada saatnya hidup
kita begitu mantap, namun tiba-tiba kita bisa saja menjadi goyah. Pada saat sukses, rasanya gampang untuk bersyukur kepada Tuhan, namun pada saat gagal, kita akan merasa sulit mengucap syukur pada Tuhan.

Tidak susah untuk bersyukur bila seseorang naik pangkat, atau gajinya bertambah, namun bagaimana dengan  mereka yang dipecat dari pekerjaan. Rasul Paulus di dalam  1 Tesalonika  5:18 mengatakan “Dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur, sebab itulah yang Allah inginkan dari kalian sebagai orang yang hidup bersatu dengan Kristus Yesus.” 

             Kadang timbul pertanyaan dalam benak hati kita, mengapa kita sulit mengucap syukur kepada Tuhan? Mengapa justru hanya komplain yang keluar dari mulut kita? Saya tidak tahu mulai pagi ini hingga saat ini ini sudah  berapa kali anda komplain ? Mari kita lihat suatu komplain yang dilakukan oleh isteri Ayub, baca Ayub 2 : 9-10 “Istrinya berkata kepadanya, “Mana bisa engkau masih tetap setia kepada Allah? Ayo, kutukilah Dia, lalu matilah!”   Jawab Ayub, “Kaubicara seperti orang dungu! Masakan kita hanya mau menerima apa yang baik dari Allah, sedangkan yang tidak baik kita
tolak?” Jadi, meskipun Ayub mengalami segala musibah itu, ia tidak mengucapkan kata-kata yang melawan Allah.  (IBIS)

            Kembali kepada pertanyaan kita, mengapa
kita mesti mengucap syukur? Kita akan coba lihat tiga
alasannya hari ini ;

1. Karena syukur membawa kehidupan lebih dinamis

Keluhan, omelan, protes dan sebagainya merupakan suatu kemacetan atau kemandekan dalam hidup kita, sebab tatkala kita mengeluh; kita berada pada posisi stagnasi. Sedangkan ucapan syukur merupakan suatu posisi yang dinamis, semakin kita bersyukur maka semakin kita beriman, dan dekat serta takut akan Tuhan, semakin menuju sempurna.

Para ahli bisnis mengajarkan tiga kata ajaib mewujudkan kehidupan kerja yang lebih dinamis, misalnya kata “I respect you,” “I appreciate you” dan “I agree with you.” Ketiga kata ini diyakini akan mengubah kehidupan kerja seseorang menjadi lebih dinamis, ketimbang kata-kata yang mencemooh, menghina dan menghakimi. Sedangkan para ahli komunikasi mengatakan bahwa ada tiga kata ajaib yang mampu membangun hubungan baik antar manusia (the three magic words), yaitu terima kasih (thank you), maaf (sorry), dan tolong (please). Dari ketiga kata tersebut, yang memiliki kekuatan terbesar ternyata kata “terima kasih”.

Ungkapan terima kasih sesungguhnya didasari pada rasa syukur kepada Tuhan Yang Kuasa atas rahmat-Nya kepada seseorang. Dia telah  menggunakan orang lain untuk menolong seseorang melakukan sesuatu atau memberi sesuatu. Tatapan mata yang lembut yang disertai senyum dan jabat tangan erat sambil menyampaikan terima kasih, memiliki kekuatan yang luar biasa bagi orang yang menerimanya untuk berbuat lebih baik lagi.
Ungkapan terima kasih yang tulus dan antusias akan mendorong orang untuk semakin banyak memberi dan melayani orang lain.

Untuk ungkapan “terima kasih”, rupanya bahasa Indonesia telah memakai kata yang sangat kristianai, yakni kata “terima” dan “kasih”. Sedangkan dalam bahasa Latin, yaitu antara kata think (berpikir) dan thank (berterima kasih). Seseorang hanya mampu berterima kasih dan mengungkapkannya dengan tulus ketika dia bisa berpikir bahwa apa yang diterimanya saat ini adalah atas pertolongan orang lain. Oleh karena itu, dia wajib berterima kasih. Tanpa adanya pemikiran bahwa apa yang diterimanya merupakan
pemberian orang lain, mustahil dia mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan tulus. Terlepas dari apa motivasi seseorang memberikan sesuatu atau menolong kita, sudah selayaknya ungkapan terima kasih disampaikan dengan tulus. Justru melalui ketulusan dalam mengungkapkan rasa terima kasih ini, perlahan-lahan akan memurnikan motivasi dalam membangun kebersamaan.

 2. Karena  berkat itu adalah Anugerah
 
               Coba kita perhatikan pertanyaan Tuhan Yesus pada ayat berikut ini? Luk 17:18  Mengapa hanya orang asing ini yang kembali mengucap terima kasih kepada Allah?”  Penulis Lukas ingin mengatakan kepada kita seakan-akan Yesus komplain? Yang sembilan orang itu ke mana? Mengapa orang –orang Yahudi tidak kembali? Apakah mereka tidak merasa ditolong oleh
Yesus? Apakah mereka yang tidak  kembali ibarat orang yang tidak punya  hati untuk berterima kasih?        
             Ceritanya begini, ada sepuluh orang yang sakit kusta, mereka bertemu Tuhan Yesus dan minta disembuhkan. Lalu Tuhan Yesus meminta mereka pergi menghadap imam-imam, namun di tengah perjalanan penyakit kusta mereka menjadi tahir. Dari sepuluh orang kusta yang telah tahir itu, yang kembali datang kepada Tuhan Yesus dan mengucapkan terima kasih hanya
satu orang, itupun dia bukan orang Yahudi, melainkan orang Samaria. Sewaktu saya kuliah di Seminari, tatkala membahas ayat ini, ada satu teman memprotes; mengapa Tuhan Yesus mempertanyakan sembilan orang yang
laian? Bukankah Yesus sendiri yang menyuruh mereka bertemu imam-imam?                                   
    Kadang di gereja kita mendegar keluhan-keluhan dari orang-orang percaya yang lagi mengalami kesusahan dan  kita senantiasa diminta mendukungnya dalam doa dan bahkan juga dana. Kita seakan-akan diajak harus dan wajib   turut merasakan begitu dalamnya penderitaannya. Namun setelah ombak kehidupannya lewat, berita dari orang tersebut tidak ada lagi, lenyap begitu saja. Bahkan mendadak ada berita bahwa orang tersebut sudah berbahagia, bahkan sudah menikah dan sukses. Sebagai umat Tuhan kita bukannya komplain dan merasa iri  akan hal ini, namun bagi orang tersebut, ia seakan-akan berpikir bahwa gereja , hamba Tuhan dan anggota lainya berkewajiban mengurusnya kalau ia lagi susah. Lalu setelah kesusahannya lenyap, sayonara gereja. Mungkin orang Yahudi juga hampir sama saja. Mereka melihat bahwa Yesus diutus  untuk bangsa Yahudi, maka ketika Dia menyembuhkannya, itu sudah sebuah  tindakan wajar dan wajib. Jadi tidak perlu kembali dan terima kasih. Itu sudah  merupakan tugas Yesus untuk menolong mereka.
Justru tidak wajar kalau Yesus tidak turun tangan menolong orang-orang itu. Sering orang melihat sesuatu dianggap wajar saja. Kalau Allah memberi  nafas setiap hari, memberi keselamatan setiap hari, memberi pekerjaan  setiap hari dan sebagainya, itu hal yang wajar. Allah itu seharusnya  memang  berbuat begitu. Kalau Allah memberikan petaka,  bencana, dan hal
negatif lainnya, maka ini perlu dipersoalkan.        
            Seandainya kita  memberi posisi diri sebagai orang Samaria, yang  senantiasa merasa dia tidak pantas dibantu, sebab keselamatan bukan untuk
mereka sebagai warga kelas dua di daerah Yahudi. Bukan hanya sebagai orang Samaria, tetapi juga orang Samaria yang kena penyakit kusta  yang harus jauh dari masyarakat, maka orang akan mudah mengucap bersyukur.
Betapa  dia yang tidak pantas ini diberi anugerah yang tidak terduga  dari  seorang yang sangat hebat dan terhormat. Kesadaran ini membuatnya  datang  kembali untuk bersyukur dan menyembah Yesus.                 
    Jika hari ini kita sulit mengucap syukur, mungkin sudah saatnya kita berdoa kepaad Tuhan agar kita diberikan persolan yang rumit, sakit-penyakit atau kehilangan pekerjaan; supaya kita boleh merasakan betapa besar anugerah Tuhan yang sesungguhnya kita dapatkan hari ini. Kadang tanpa kita sadari, tatkala pekerjaan menumpuk dan kita merasa capek, hal ini
mebuat kita jauh dari Tuhan. Saya sempat bertanya pada salah pemuda kenapa dia tidak ke gereja hari Minggu? Jawabannya, malas, sibuk , banyak
tugas kuliah dan capek. Dalam hati saya ingin berkata padanya, kalau gara-gara kuliah, kitya capek lalu jauh dari Tuhan; mungkin sudah saatnya kita minta cuti dari kuliah, supayua kita tidak capek dan bias dekat kepada Tuhan. Demikian juga mereka yang sibuk dengan pekerjaan, usaha dan sebagainya, jika karena hal-hal itu membuat anda terhalang dating kepaa Tuhan, maka lebih baiak minta Tuhan ambil kembali berjkat tersebut, supaya kita lebih leleusa dan tidak ada halangan datang pada Tuhan.

3. Karena rancangan Tuhan selalu baik

Kita keliru bila  mengukur kasih Allah dengan ritual yang kita lakukan.  Jangan kita mengira karena kita sudah rajin ke gereja, rajin baca Alkitab, setia memberi persembahan perpuluhan, dan taat firman Tuhan, maka secara otomatis hidup kita sudah lancar dan sukses.  Itu teologi kemakmuran.  Taat pada firman Tuhan bukan ucapan syukur, sebab ucapan syukur merupakan buah-buah ketaatan yang kelihatan.

Coba lihat Ayub, adakah diantara kita yang dapat mengalahkan kerohanian Ayub? Alkitab mencatat bahwa ia orang yang saleh, jujur, orang yang taat pada Tuhan. Setiap pagi dia senantiasa datang pada Tuhan. Namun kenyataannya yang kita lihat adalah, orang semacam inipun tidak luput dari penderitaan.  Harta kekayaannya lenyap, bahkan ia harus menderita sakit. Yang menarik dari Ayub adalah tatkala ia berada dalam kondisi demikianpun, ia tidak pernah mempersalahkan Allah, artinya ia tidak pernah komplain. Baca Ayub 1:21, Ayub berkata, “Aku dilahirkan tanpa apa-apa, dan aku akan mati tanpa apa-apa juga. TUHAN telah memberikan dan TUHAN pula telah mengambil. Terpujilah nama-Nya!”

Bukankah kita dilahirkan di dunia ini tidak membawa apa-apa? Kalau dibandingkan dengan saat ini, pakaian,pengetahaun, pekerjaan, keluarga dan bahkan harta kekayaan yang kita miliki, bukankah seharusnya kita mengucap syukur? Apakah kita menganggap ini sebagai hal yang wajar, sebab kita yang berjuang kerja sendiri, belajar mati-matian, dan usaha sekeras`-kerasnya; jadi wajar kalau kita memiliki segala-galanya? Jika ini merupakan pikiran kita, maka ini sekaligus kekeliruan kita. 

    Tuhan tidak sedang berbasa-basi supaya kita mengucap syukur dalam segala keadaan. Tetapi Tuhan itu serius terhadap kita, sebab rancangannya selalu yang terbaik. Kadang kita berpikir mengapa Tuhan itu menempatkan orang-orang yang sulit dalam team kerja kita? Gara-gara mereka pekerjaan kita menjadi tidak lancar?    Mengapa ada atasan yang berlaku tidak adil?
Mengapa ada pimpinan yang suka menekan bawahan? Mengapa dan banyak mengapa?  Namun kita harus bijak, sesungguhnya Tuhan menempatkan kita di tengah-tengah serigala ini justru melatih kita,.

Jika kita ingin belajar sabar, maka kita perlu bergabung dengan orang-orang yang sukar. Justru kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang suci, suka memaafkan, suka mengampuni dan baik hati, maka sulit bagi kita melatih kesabaran; justru kebalikannya, orang-orang lain yang barangkali harus bersabar terhadap kita.

Roma 8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Sedangkan Pengkotbah 3 : 11 mengatakan “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. “  Janji-janji Tuhan didalam kedua ayat inilah yang membuat kita sebagai anak-anak Tuhan tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur.
(ss)

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: