Archive for the ‘Relationship’ Category

Lebih Mesra Berkat Bulan Madu Kedua

June 11, 2008

Wajar jika kita merasa jenuh pada pasangan. Bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya bisa dijadikan solusi.

Ritual bulan madu biasanya dilakukan oleh pasangan yang baru memasuki mahligai rumah tangga. Tapi, bukan berarti pasangan yang sudah lama menikah tak boleh berbulan madu, justru mereka butuh pergi berduaan lagi untuk menyegarkan kembali komitmen perkawinan.

Menurut Dra. Psi. Dini Sugestia, kesadaran suami istri untuk melakukan bulan madu kedua biasanya baru datang setelah mereka tak menemukan solusi permasalahan yang dihadapi. Meski begitu tak berarti bulan madu kedua hanya melulu didominasi pasangan yang bermasalah.

“Pasangan yang sebetulnya tak punya masalah dalam kehidupan rumah tangganya, juga perlu berbulan madu kedua.” Misalnya ketika anak-anak sudah beranjak dewasa. “Pasangan sadar bahwa mereka membutuhkan suasana baru,” lanjut psikolog dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga ini.

Manfaatkan Momen
Esensi second honeymoon sebenarnya adalah memperbaharui kondisi yang sifatnya sudah rutin dan menjenuhkan. Setelah bertahun-tahun menikah, kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga seringkali menyebabkan pasangan merasa saling menjauh. Komunikasi pun menjadi macet.

Momen bulan madu kedua seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyegarkan kembali gairah cinta yang memudar. Pilihlah kegiatan yang bisa dinikmati berdua dengan pasangan. Bila ada hal-hal yang mengganjal, inilah saat yang tepat untuk diungkapkan. Tentu saja harus disampaikan dengan cara yang tepat, sehingga acara bulan madu itu sendiri tak rusak.

Hanya Berdua

Banyak tempat yang bisa dijadikan tujuan berbulan madu. Yang terpenting adalah Anda hanya berdua dengan pasangan tanpa mengajak orang lain, termasuk anak-anak.

Karena itu, anjur Dini, pasangan sebaiknya mencari seseorang yang dipercaya untuk menggantikan merawat anak atau bayi selama mereka berbulan madu kedua. “Dengan demikian si ibu jadi bisa lebih tenang dan bisa menikmati bulan madunya,” kata Dini seperti dikutip tabloid Nakita.

Nah, agar acara bulan madu kedua berjalan lancar, persiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari. Selain pilihan tempat, waktu, dan anggaran berbulan madu, yang tak kalah penting adalah menyiapkan diri termasuk penampilan agar gairah kembali berkobar seperti pengantin baru.

Sepuluh Kiat Perkawinan Awet

May 7, 2008

Henry A. Ozirney dalam bukunya Knot Happy: How Your Marriage Can Be (Tate Publishing & Enterprises; New York; 2007) mengatakan, perkawinan merupakan wujud menyatunya dua individu ke dalam satu tujuan yang sama, yakni kebahagiaan yang langgeng bersama pasangan hidup. Namun, rasa cinta saja tak cukup karena akan ada banyak tantangan dan persoalan yang muncul mengusik kehidupan berumah tangga. Nah, saat gangguan itu muncul, ingat-ingatlah 10 tip Ozirney di bawah ini.

1. Bersiaplah untuk berkorban.

Setiap individu yang mengikatkan diri dalam perkawinan mau tak mau harus siap berkorban bagi pasangannya. Kadang dalam masalah kecil saja, dituntut pengorbanan yang besar. Contohnya, Anda baru sampai di pintu rumah dan merasa capek, tapi suami ternyata mengeluh badannya meriang dan minta dikerokin. Tentu niat semula hendak langsung beristirahat harus langsung di kesampingkan. Pengorbanan ini Anda dahulukan karena perhatian pada suami Anda anggap jauh lebih penting daripada rasa capek. Bila salah satu bersikap egois, tentu saja dapat menjadi pemicu munculnya perasaan kesal dan diperlakukan tak adil.

2. Tetap punya waktu untuk diri sendiri.

Sangatlah menyenangkan bila Anda memiliki kegiatan atau hobi yang dapat dilakukan bersama. Tapi jangan lupa, Anda juga perlu melakukan sesuatu atau berkegiatan sendiri tanpa didampingi pasangan. Punya waktu sendiri memberi kesempatan Anda untuk berpisah sementara dengan pasangan. Di saat ini, Anda dapat dengan jernih merefleksikan kembali kehidupan cinta Anda berdua. Kemudian melakukan koreksi diri tentang hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk meningkatkan kebahagiaan perkawinan dan menghindari kebosanan karena berduaan terus. Di samping itu, sendirian sejenak dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi seberapa jauh Anda kangen pada pasangan.

3. Memelihara keintiman dan romantisme.

Suami-istri yang sudah cukup lama berumah tangga kadang kurang peduli terhadap hal yang satu ini. Tak ada lagi kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun kerap jadi barang mahal. Padahal kunci hubungan yang sukses adalah melakukan hal-hal kecil yang berharga bagi pasangan. Melalui gerak tubuh, kata-kata penuh cinta dan perhatian kecil, rasa cinta dapat tetap terpelihara. Justru ungkapan emosi yang positif terhadap pasangan menjadi “tabungan” bagi hubungan emosi mereka. Jika “rekening” masing-masing sama besarnya, dijamin hubungan akan tetap berlangsung manis di masa datang. Entah sekadar memberi sekuntum bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis, akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup.

4. Pandai mengatur keuangan keluarga.

Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah. Artinya, faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak ditopang oleh kondisi finansial yang memadai. Mengatur ekonomi keluarga secara benar juga akan memberi rasa aman dan bahagia.

5. Berbagi tugas rumah tangga dan pengasuhan anak.

Kedua hal ini memberi kesempatan kepada pasangan untuk bekerja sebagai tim yang solid. Kegiatan membereskan rumah dan mengasuh anak dapat menjadi sarana mempererat tali perkawinan.

6. Komunikasi jujur dan terbuka.

Komunikasi merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Jadi, cobalah untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan pasangan. Luangkan waktu untuk duduk dan ngobrol bersama, sekalipun hanya 5 menit setiap hari. Sempatkan untuk meneleponnya atau mengirim SMS romantis. Sapaan “selamat pagi” atau “selamat malam” di tempat tidur juga dapat dijadikan ajang berkomunikasi. Intinya, ciptakan komunikasi sehingga masing-masing pribadi merasa dibutuhkan.

7. Jangan memendam masalah.

Sebenarnya ini merupakan bagian dari komunikasi. Namun pada intinya, seperti apa pun perasaan Anda dan pasangan, hendaknya selalu dikomunikasikan. Rasa marah yang terpendam juga membuat Anda berusaha menghindari satu sama lain tanpa sebab yang pasti. Makanya akan lebih baik bila setiap kali muncul perasaan marah atau kesal hendaknya dikemukakan saja agar tidak timbul kesalahpahaman yang berlarut-larut. Namun kemukakan kekesalan Anda secara santun dan objektif.

8. Sadarilah Anda berdua adalah pribadi yang berbeda.

Ini bukan hanya dalam waktu singkat, tapi berlangsung untuk selamanya. Jadi wajar bila ikatan perkawinan akan selalu diwarnai perselisihan akibat perbedaan. Bukan saja perbedaan pendapat, tapi juga ketidaksetujuan akibat perbedaan-perbedaan yang lain. Pasangan yang gagal dalam perkawinan umumnya menaruh harapan terlalu tinggi bahwa pasangannya akan berubah sesuai keinginan dirinya. Sementara pasangan yang perkawinannya awet umumnya lantaran menyikapi perbedaan demi perbedaan dengan bijak. Perbedaan seyogianya tak harus menghancurkan perkawinan, melainkan justru memperkaya wawasan masing-masing sambil mencari solusi terbaik dengan selalu memprioritaskan kebahagiaan perkawinan.

9. Bersikap spontan.

Kebiasaan positif ini dapat diterapkan kapan saja. Misalnya, ingin menciptakan suasana romantis, mengatur jadwal makan malam di luar, bercinta, saling memuji, memerhatikan dan lain-lain yang sifatnya kejutan. Spontanitas ini bermanfaat untuk menghindari kebosanan dalam perkawinan. Lagi pula siapa sih yang tak suka mendapat kejutan menyenangkan? Yang penting, kejutan tersebut haruslah tulus dan penuh rasa cinta.

10. Selalu mengingat hal-hal terbaik dalam diri pasangan.

Apa saja hal-hal terbaik dalam diri pasangan yang membuat Anda mengambil keputusan untuk menikah dengannya? Selalu mengingat hal-hal terbaik yang dimiliki pasangan akan selalu menuntun Anda pada sejumlah kenangan manis yang tiada habisnya. Selain akan membuatnya merasa berharga di mata Anda. Ingat, hidup perkawinan tak luput dari dinamika hidup. Segalanya bisa saja berubah. Namun alasan mengapa Anda dulu begitu mencintainya akan selalu terpatri dalam lubuk hatinya. Begitu juga sebaliknya, sehingga kedua belah pihak akan selalu bertekad untuk menjaga hal-hal berharga tadi dan mempertahankan perkawinan.

Untuk menerapkan 10 tip tadi memang tak selalu mudah, tapi percayalah kunci-kunci ini dapat menyelamatkan perkawinan. Dan selalu menyerahkan perkawinan dan keluarga Anda kepada Tuhan. Tuhan Memberkati.

Sumber : Harian Global

Faith Journey Pada Remaja

May 6, 2008

Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?
Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;

Yoh 6:68

“Tuhan tolong lindungi boy, anjing kesayangan saya supaya dia tidak dibunuh orang jahat”. Itulah doa paling sungguh-sungguh yang saya panjatkan waktu saya berusia 5 tahun di tengah isu gempuran massa yang melempari batu ke rumah-rumah di Bandung di tahun 1974. Kekuatiran saya makin bertambah ketika orang-orang di rumah mengatakan saya harus lompat ke rumah belakang tanpa membawa boy kalau para perusuh datang. Takut tapi juga kelelahan, saya akhirnya tertidur pulas. Ketika saya terbangun keesokannya, betapa bahagianya saya karena rumah kami tidak kena amuk massa dan yang paling penting, anjing saya selamat. Itulah momen pertama saya merasakan relasi pribadi dengan Tuhan. Buat saya, Tuhan itu baik dan hebat karena Ia meluputkan kami dari bahaya. Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan mama tentang siapa Tuhan itu.
Dalam masa pra remaja, saya mulai suka membaca termasuk Alkitab dengan berbagai cerita di dalamnya. Saya kagum dengan berbagai cerita kepahlawan tokoh-tokoh Alkitab di Perjanjian Lama, khususnya yang mempertunjukkan kemenangan atas kejahatan dalam bagian akhir. Justru yang saya tidak suka adalah pada saat saya memasuki kisah kematian Yesus di kayu salib. Saya tidak memahami mengapa kalau Allah sungguh ada, Dia maha kuasa dan maha baik, Dia membiarkan Yesus mati dengan cara yang sangat mengenaskan dan memalukan? Saya tidak ketemu jawabannya. Saya putuskan melewatkan kisah itu dalam ketidak mengertian. Orang tua, guru, beberapa orang yang katanya lebih dewasa rohani mengatakan Tuhan itu baik. Saya pikir saya juga harus memiliki keyakinan seperti itu, tetapi dalam perjalanan waktu saya makin sulit mempertahankan keyakinan tersebut.
Banyak ketidakkonsistenan antara yang diajarkan dan yang dilakukan, khususnya fakta bahwa keluarga saya yang katanya pengikut Kristus, namun setiap minggu pagi sebelum pergi ke gereja, selalu terjadi konflik dan ketegangan di dalam rumah. Loh kalau Tuhan itu baik dan kita harus percaya Dia baik, mengapa keluargaku tidak baik?
Di dalam gereja yang seharusnya saya bayangkan akan penuh dengan kasih sayang dan penerimaan, malah sebaliknya penuh kepura-puraan. Pendeta berbicara soal kasih dan pengampunan, kakak-kakak yang katanya pengurus malah sibuk sendiri dengan program mereka, belum lagi percakapan diam-diam dalam kelompok di mana mereka saling menjelekkan orang lain dalam gereja. Saya jadi tambah bingung, di mana kasih sejati bisa saya temukan di sana? Kalau Tuhan memang hadir di sana, mengapa saya tidak merasakannya?
Iman yang dimulai dari cerita dan kekaguman akan berbagai kisah di Alkitab bertentangan dengan realita yang saya hadapi begitu memuakkan. Kekesalan akan Tuhan memuncak ketika saya dipaksa ikut katekisasi hanya sekedar untuk menerima baptisan sidi (di mana pada saat yang sama mama menjabat jadi majelis gereja), padahal saya sendiri sedang dalam tahap meragukan Tuhan. Saya yang anak majelis jadi sasaran pertanyaan sulit pada saat ujian akhir. Saya jawab berdasarkan bacaan, bukan berdasarkan iman saya. Saya benci diri saya sendiri yang tidak punya keberanian untuk menyatakan keraguan saya di hadapan orang lain.
Di tengah kekeringan dan kebingungan, saya dipertemukan sahabat sebangku yang sebenarnya bukan aktivis gereja. Dia dari keluarga non Kristen, tetapi dia mencintai Tuhan Yesus. Dia menceritakan kasih Tuhan dalam hidupnya dan melalui dia saya dimotivasi untuk membaca Alkitab. Lewat kesaksian dan diskusi kami bersama, saya mulai memiliki ketertarikan kembali kepada pribadi Tuhan. Sahabat saya ini banyak pergumulannya, tetapi saya bisa melihat iman dan kesungguhan dia dalam keseharian. Saya pikir kalau ada satu orang yang mirip dengan apa yang saya bayangkan tentang hidup bersama Yesus, maka sangat mungkin kisah Tuhan bukan sekedar fantasi tetapi nyata dalam hidup ini.
Sejak saat itu, saya berusaha untuk belajar, mencari kebenaran lewat banyak bertanya, saya mengalami pergumulan dalam relasi pribadi dengan Tuhan yang seringkali tetap jadi misteri. Namun sedikit demi sedikit saya mulai memahami mengapa Yesus harus mati, bagaimana memahami Tuhan bukan hanya dari sisi kasih semata tanpa melihat pribadi Allah secara menyeluruh, dan bagaimana menerima keberadaan anak-anak Tuhan yang jauh dari sempurna dari yang saya harapkan, ketika saya sadar saya juga belum sempurna.
Sesudah itu, saya masih sering bertemu orang yang berpura-pura, masih memiliki banyak sekali pertanyaan tentang misteri Tuhan, seperti mengapa seakan Allah diam ketika ada orang menderita. Ada banyak kebingungan yang saya alami, tetapi saya memilih sikap sama seperti para murid Yesus di atas. Di tengah ketidak mengertian mereka akan pengajaran Yesus yang rumit, mereka memilih tetap mengikut Yesus, karena hanya Yesus yang memberikan harapan pasti akan kekekalan, bukan yang lain.
Sekarang iman yang saya miliki bukan lagi didasarkan pada apa kata ortu, guru atau pendeta, tetapi dari apa yang Alkitab ajarkan dan apa yang saya lakukan dan alami dalam relasi bersama Tuhan.
Sobatku, mungkin kamu punya pengalaman yang mirip atau bisa juga berbeda. Menjadi anak Tuhan bukan berarti beriman tanpa memahami sama sekali. Beriman bukan ritual ibadah, rutinitas pelayanan, padahal kita tidak mengenal sungguh pribadi Yesus yang kita imani. Kenali Yesus lewat baca Alkitab, berani bertanya pada kakak rohani, berani bergumul, berani jujur mengakui bahwa masih banyak misteri yang tidak kita pahami adalah langkah-langkah kita mulai memiliki iman secara pribadi bukan iman yang didasarkan pada apa kata orang lain.


Sumber : www.my-lifespring.com

Kencan / Pacaran menurut Alkitab

April 22, 2008

Apa kata Alkitab mengenai hubungan kencan / pacaran?

Tuhan menginginkan yang terbaik untuk kita dalam setiap aspek kehidupan. Termasuk diantaranya hubungan kita dengan kekasih/pacar. Kita berkencan untuk mendapatkan kesenangan, persahabatan, pengembangan kepribadian dan memilih kawan, bukan untuk popularitas atau untuk merasa aman. Jangan biarkan lingkungan pergaulan memaksa kamu memasuki situasi kencan yang kurang pantas. Ketahuilah bahwa lebih dari 50% remaja putri dan lebih dari 40% remaja putra tidak pernah berkencan pada masa-masa SMA. Alkitab memberikan kita beberapa pegangan yang jelas untuk membimbing kita dalam membuat keputusan mengenai soal kencan/pacaran.

1. Jagalah hatimu.
Alkitab mengatakan kepada kita untuk berhati-hati dalam memberikan/menyampaikan kasih sayang kita, karena hati kita mempengaruhi segala sesuatu dalam hidup kita.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

2. Kamu akan menjadi seperti teman-temanmu bergaul.
Kita juga cenderung menjadi seperti teman-teman sepergaulan kita. Prinsip ini berhubungan erat dengan yang hal yang pertama dan sama pentingnya dalam pergaulan seperti dalam hubungan kencan/pacaran.
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

3. Orang Kristen hanya boleh berkencan/berpacaran dengan sesama Kristen.
Biarpun berteman dengan teman non-kristen tidak dilarang, mereka yang khususnya dekat di hati haruslah orang percaya yang sudah dewasa yang merupakan pengikut Kristus yang taat dalam hidupnya.
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? ” (2 Korintus 6:14).

4. Apakah itu cinta yang sesungguhnya?
1 Korintus 13:4-7 mendeskripsikan cinta yang sesungguhnya. Tanyalah hatimu pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apakah kalian sabar satu sama lain?
Apakan kalian baik terhadap satu sama lain?
Apakah kalian saling cemburuan?
Apakah kalian suka menyombongkan baik diri sendiri maupun sang pasangan?
Apakah ada kerendah-hatian dalam hubungan kalian?
Apa kalian kasar memperlakukan satu sama lain?
Apa kalian saling mementingkan diri sendiri?
Apa kalian mudah marah terhadap satu sama lain?
Apa kalian suka mengingat-ingat kesalahan sang pasangan di masa lalu?
Jujurkah kalian satu sama lain?
Apakah kalian saling melindungi?
Apakah kalian saling mempercayai?

Kalau jawabanmu “Ya” untuk semua pertanyaan diatas, artinya 1 Korintus 13 seperti Firman Tuhan berkata, kalian sungguh saling mengasihi satu sama lain. Kalau ada jawabanmu yang “Tidak” atas pertanyaan-pertanyaan di atas, artinya mungkin kalian harus mendiskusikan hal-hal di atas dengan pacarmu.

Seberapa jauhkah terlalu jauh?
Banyak pelajar-pelajar menanyakan, “Seberapa jauh yang kita boleh lakukan dalam berpacaran/berkencan?” Beberapa prinsip yang akan menolongmu untuk memutuskan apa yang pantas dan yang tidak dalam berpacaran/berkencan:

1. Apakah situasi yang kuciptakan mengundang dosa seksual atau menghindarinya?
1 Korintus 6:18 berkata “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! ” Kita tidak dapat melakukan ini apabila kita mencobai diri kita sendiri karena kecerobohan kita.

2. Bagaimanakah reputasi sang kekasih/pacar?
Ketika menerima undangan kencan pada dasarnya seperti berkata, “Aku memiliki kesamaan pandangan dengan engkau.” Hal inilah yang dapat membuat kamu menyesal nantinya. Ingatlah 1 Korintus 15:33, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.”

3. Apakah ada pengaruh obat-obatan atau alkohol?
Jangan merubah pandanganmu hanya untuk pacarmu.

4. Apa aku tertarik dengan tipe orang yg salah?
Yakinkan bahwa pesan yang kamu sampaikan dengan perbuatanmu tidak membuat orang lain merubah pandanganmu.

5. Sadarkah aku kalau dosa itu terbit dari hati?
Matius 5:28 berkata, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia dalam hatinya”

6. Apakah tempat berkencanmu tepat dan pantas?
Tujuan yang baik kadang terlupakan oleh godaan dan kesempatan yang terlalu besar.

7. Apakah aku melakukan sesuatu yang merangsang secara seksual?
Jangan melakukan kontak yang merangsang seksual seperti ‘petting’.

Kalau sudah terlanjur jauh, mengapa memutuskan untuk berhenti?
1. Tuhan itu pengampun.
1 Yohanes 1:9 berkata bahwa Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Kamu dapat mulai sesuatu yang baru dengan Tuhan kapanpun.

2. Tuhan itu kudus.
FirmanNya berkata bahwa dosa sex itu salah, dan Dia tahu segala yang terbaik.

3. Tuhan itu penuh kasih.
Tuhan tau bahwa hubungan yang terlalu jauh sebelum pernikahan cenderung memisahkan sebuah pasangan dan mengakibatkan pernikahan yang kurang bahagia. Ia tahu bahwa banyak pria tidak mau menikahi wanita yang pernah berhubungan terlalu intim dengan pria lain

Sumber : Chritiananswers.net

AKIBAT DOSA DALAM BERPACARAN

April 22, 2008

AKIBAT DOSA DALAM BERPACARAN
Oleh: Pdt. Dr. Jonathan A. Trisna, M.Psi.

Persetubuhan pertama yang disertai dengan perasaan berdosa ini biasanya sangat mengecewakan. Mungkin mereka melakukannya dengan tidak bebas, takut dilihat orang, dan disertai dengan rasa bersalah. Semestinya hubungan seks itu dilakukan dengan santai untuk dinikmati, karena seks adalah ciptaan Allah yang harus dilakukan dengan kesucian dan kemurnian hati.
Ada 2 akibat dari dosa tersebut, yaitu:

A. Akibat Langsung bagi si Gadis
Peristiwa pertama disertai dengan rasa sakit, bukan hanya takut, cemas, atau rasa berdosa. Bagi seorang istri yang ingin sungguh-sungguh menikmati seks, biasanya ada waktu untuk penyesuaian. Si Gadis yang kini sudah tidak perawan lagi itu pulang dengan rasa takut, cemas, mungkin menangis dan mulai membenci pacarnya. Sebelumnya, pacarnya dianggap sebagai pria idamannya, namun sekarang semua telah berubah. Gambaran di atas menggambarkan perubahan perasaannya. Sebelum dosa persetubuhan dilakukan, ia sangat mencintai pacarnya – meskipun sebagian besar dengan cinta eros. Setelah perbuatan dosa itu, cintanya berkurang – bahkan mulai membenci – atau menjadi lebih banyak bencinya daripada cinta yang semula.
Apa yang digambarkan di novel-novel murahan dan tidak realistis itu justru menceritakan cintanya pada pacarnya akan menjadi menggebu-gebu. Perubahan ini juga bisa dialami oleh pria. Alkitab sebagai buku yang realistis menggambarkan hal ini juga (tidak berarti si Pria meninggalkan si Gadis karena muak dan benci, karena hal itu mutlak akan terjadi). Ada di dalam kitab 2 Samuel 13:1-17.

B. Akibat Jangka Panjang
Ada dua kemungkinan kelanjutan dari perbuatan dosa itu, yaitu:

1. Hubungan mereka putus
Karena kehilangan penghargaan dan timbul kebencian terhadap pacar, kemungkinan hubungan mereka akan putus. Kemungkinan ini lebih besar lagi apabila mereka masih remaja. Lalu, jika hubungan itu putus, siapa yang akan rugi besar? Tentunya si Gadis. Dan si Pria merasa untung, pergi tertawa dan bersiul-siul mencari teman baru. Kalaupun ia menyesal dan tidak tertawa-tawa, tidak ada ‘bekas’ padanya secara fisik yang merugikan hubungannya dengan teman wanitanya yang lain.

2. Hubungan yang dilanjutkan sampai menikah
Perbuatan dosa pada masa lalu ini akan sangat merugikan si Gadis dan hubungannya dengan pria lain di masa nanti. Maka timbullah pertanyaan, “Apakah ia harus memberitahu kepada calon suaminya?” Memang pada abad ke-20 ini, pria-pria kita masih mengikuti standar ganda masyarakat. Harga diri pria memang rapuh, mudah retak. Ia perlu yang terbaik. Pikirannya kelak akan dihantui bahwa istrinya ‘bekas’ orang lain. Memang agak kekanak-kanakkan, tapi banyak pria yang tidak dapat melupakan hal itu.
Sungguh-sungguh memerlukan seorang yang benar-benar dewasa kepribadiannya untuk mengatasi shock dan kecewanya. Perlu juga pria yang rela mengampuni dan dapat melupakan masa lalu tunangannya. Jika sang Pria, tidak dengan kedewasaan Kristus, menerima si gadis ‘bekas’ namun tetap memaksakan diri untuk menikahinya (entah karena ia cantik, kaya, penting untuk karirnya, atau gengsi – ‘Bukankah saya orang Kristen, jadi harus menerimanya?’), akibatnya akan tampak setelah mereka menikah. Ia tidak akan menghargai dan memiliki respek terhadap istrinya. Ia akan menggunakan masa lampau istrinya sebagai senjata untuk ‘mengalahkan’ istrinya.
Lebih baik tidak usah menikah, daripada menikah tapi tidak dihargai. Pernikahan seperti ini kemungkinan besar akan diracuni oleh perbuatan dosa masa lalu itu. Akibatnya mereka tidak saling mempercayai secara penuh dan ada rasa cemburu. Apabila mereka bertengkar, dosa masa lampau itu juga akan mewarnai dan mempertajam perselisihan itu.
Dalam situasi pernikahan yang parah seperti ini, mereka sangat memerlukan konseling yang dalam. Mereka patut meminta ampun untuk dosa-dosa mereka kepada ALLAH dan pada partnernya. Mereka perlu saling mengampuni, melupakan dosa itu dan menerimanya partnernya sebagaimana adanya. Mereka membutuhkan kasih Ilahi yang dewasa. Tentunya tidak semua pernikahan yang dimulai dengan dosa persetubuhan sebelum menikah berakhir seperti ini, tapi sangat lebih baik mencegah hal-hal tersebut di atas, supaya muda-mudi itu memasuki pernikahan dengan hati yang cerah dan kasih yang tidak dicemari ketidakpercayaan dan perasaan suci.

Spending Time with Their Peer

April 18, 2008

Dalam beberapa seminar tentang remaja, seringkali muncul pertanyaan seperti ini:

“Mengapa anak saya sepertinya gak suka kalau saya berusaha dekat dengan dia?”, “Ada gak sih resep supaya anak remaja kalau pulang ke rumah gak langsung masuk kamar dan tutup pintu seakan gak mau diganggu?”, Kenapa mereka lebih mau dengar apa kata teman ketimbang saya sebagai orang tuanya?” Sebaliknya banyak remaja yang berkata: ” Sebal begini gak boleh, begitu gak boleh!”, “Aku gak suka sama ortuku yang protect banget deh”, ” Aku gak pernah bisa cerita sama mereka abis dicurigain terus!”.

Anak yang dulunya manis, dekat dan menurut apa kata orang tua, sekarang mendadak menjadi mahluk aneh, pemberontak bahkan kadang bersikap memusuhi. Sebagai orang tua atau pembimbing jadi stress dan bingung menghadapinya. Di satu sisi kita ingin mereka terbuka dan jadi sahabat, tetapi di sisi lain kita ingin mereka tunduk pada otoritas kita sebagai orang yang lebih tua. Apalagi kitapun semakin kuatir dengan adanya kemungkinan mereka terlibat ke dalam pergaulan yang salah melihat pengaruh lingkungan maupun berita-berita miring soal remaja bermasalah.

Si remajapun memasuki kondisi yang tidak mengenakkan. Ia ingin dianggap dewasa, tetapi sebenarnya pola pikir mereka belum matang. Mereka ingin mencoba hal-hal baru termasuk diterima dalam lingkup pergaulan tertentu, tetapi seringkali kurang dipercaya oleh orang tua.

Sebenarnya masalah ini akan lebih mudah ditangani apabila masing-masing pihak berusaha memahami posisi pihak lainnya dan berusaha menyesuaikan sehingga tetap tercipta komunikasi antar keduanya.

Masa remaja adalah masa di mana mereka mengalami perkembangan secara sosial. Mereka mulai belajar melepaskan diri dari pengaruh orang tua. Mereka mulai terjun ke dalam masyarakat. Bahkan mereka suka membuat kelompok atau gank tersendiri. Kegiatan permainan, pesta, jalan-jalan menjadi minat mereka saat itu. Mereka ingin membentuk kelompok sosial tertentu, ingin diterima oleh teman atau lingkungan mereka. Yang unik ternyata percakapan atau istilah remajanya curhat adalah salah satu minat sosial yang dialami remaja. Mereka suka mengeluarkan isi hati mereka dan memperoleh pandangan baru terhadap masalah yang dihadapi.

[1] Sindrom penerimaan dalam kelompok sosial dilukiskan seperti kesan pertama yang positif karena penampilan yang menarik (sesuai dengan gaya saat itu), mudah bergaul, atau mudah diajak kerjasama. Sayangnya para remaja tidak selalu ramah dengan teman sebayanya. Kadang-kadang mereka mengucilkan atau menyebarkan gosip yang buruk tentang remaja yang dianggap aneh atau tidak disukai.

Akibatnya, bila remaja berhasil diterima maka tidak ada masalah. Namun apabila ia gagal maka ia akan merasa minder atau tertolak. Lingkungan dan kelompok sosial (peer) seperti apa yang menerima mereka menentukan kepribadian mereka di masa yang akan datang. Selain ingin coba-coba, seringkali alasan mereka untuk merokok, memakai narkoba, kebut-kebutan adalah supaya mereka diterima dalam lingkup sosial. Keinginan mereka untuk diterima berkaitan erat dengan proses pencarian jati diri mereka. Jadi kesuksesan mereka dalam perkembangan sosial sangat penting buat seorang remaja.

Erickson menyebut masa remaja sebagai tahap Identity vs Role Confusion. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang dewasa. Apakah nantinya ia dapat menjadi seorang suami atau ayah. Apakah ia mampu percaya diri sekalipun latar belakang ras atau agama atau nasionalnya membuat beberapa orang merendahkannya. Secara keseluruhan, apakah ia akan berhasil atau gagal.

[2] Semakin mendekati akhir dari masa remaja, maka kelompok yang diminati remaja makin diperkecil. Mereka akan lebih menyukai kelompok yang memiliki nilai-nilai dan minat yang sama ketimbang kelompok besar yang lebih heterogen.

Bisa dikatakan perkembangan sosial adalah tahap yang paling sulit dialami remaja. Bila ia bertahan terhadap tekanan bahkan bisa diterima dan merasa dihargai maka untuk selanjutnya ia akan merasa aman. Namun kalau lingkungan yang membuat ia aman adalah lingkungan sosial yang buruk maka akan sulit buat dia keluar dari lingkungan tersebut. Bahkan bisa jadi ia menjadikan lingkungan tersebut sebagai identitas keberadaan dirinya di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu kehadiran dan kepedulian orang tua atau pembimbing remaja sangat penting bukan lagi sebagai pihak yang mengatur secara otoriter, tetapi lebih kepada posisi mentor (berjalan di sisi mereka). Sebagai pihak yang lebih tua harus bersikap arif dan belajar mendengarkan bukan menggurui. Kita harus lebih banyak mengajukan pertanyaan yang mengarahkan mereka untuk bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Ada sebuah cerita dari seorang ibu yang mencoba masuk dalam dunia anak remajanya dengan sengaja menyediakan rumahnya sebagai tempat berkumpul kawan-kawan anaknya. Dengan begitu dia bisa mengawasi sekaligus mengenal kawan anaknya yang baik dan bisa menjadi andalan apabila si remaja sedang memberontak. Suatu kali anaknya menolak untuk disuruh tidur karena masih asyik main game. Ibunya mengirim SMS kepada kawan anaknya untuk menolong memotivasi anaknya supaya tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, si anakpun segera memilih tidur setelah disms kawannya.

Selain itu, kitapun bisa membantu mereka menemukan lingkungan yang pas dengan keunikan dan ketertarikan mereka. Misalkan mereka suka dengan musik, maka kita bisa mendorong mereka untuk masuk dalam lingkup social gereja di bagian musik. Atau bagi mereka yang suka kutak katik di depan komputer, kita bisa arahkan untuk membantu pelayanan multi media. Tidak selalu harus rohani, yang penting lingkungannya bisa memberikan stimulan untuk mereka bisa berkembang dan membawa dampak positif dalam hidup mereka. Hati-hati jangan terlalu memaksa karena remaja membutuhkan ruang untuk mereka mencoba dan berhenti.

Sebagai remaja, belajarlah untuk terbuka dan memahami kekuatiran orang tua. Tunjukkan bahwa kamu bisa dipercaya dan ajak kawan-kawanmu untuk berkenalan dengan orang tua. Dengan begitu orang tuapun merasa tenang dan belajar untuk menjadikan anaknya lebih mandiri dan dewasa.

Agar tidak sampai salah langkah, seorang remaja alangkah lebih baiknya memiliki beberapa mentor dalam hidupnya sebagai tempat ia bertanya dan dibentuk pola pikirnya untuk masa yang akan datang. Selain itu mentor-mentor ini akan membantu remaja untuk bisa memilih lingkup sosial yang tepat, yang sesuai dengan kapasitas, karunia dan talenta si anak sehingga ia makin berkembang dalam kemampuannya.

Bagi orang tua atau remaja yang sedang mengalami pergumulan pertanyaan-pertanyaan di atas, mari belajar terbuka dan coba memahami orang lain sehingga pergumulan perkembangan sosial bisa terlewati dengan baik.

Sumber : www.my-lifespring.com

True Love

April 18, 2008

“Saya mencintaimu”.

Apa arti kalimat tersebut? Seberapa seringkah anda nyatakan pada pasangan anda? Seberapa jauh anda yakin ketika mengucapkan kalimat tersebut? Seberapa jauh kadarnya berkurang setelah sekian tahun pernikahan yang diisi dengan kesibukan, keindahan tubuh yang dimakan usia, atau anak-anak yang menyita waktu? Masihkah anda mengucapkannya pada pasangan anda setiap hari, seperti waktu anda baru saja menikah dulu?

Jika kita diminta menggambarkan apa itu cinta, apa yang kita bayangkan? Perasaan berbunga-bunga ketika bertemu pasangan kita? Perasaan senang dan bahagia ketika pasangan kita mengucapkan kata-kata sayang pada kita? Perasaan bahwa kita tidak bisa hidup jika tidak bersama-sama dengan pasangan kita? Perasaan rindu ketika jauh dan terpisah cukup lama dari pasangan kita? Perasaan ingin memberikan yang terbaik bagi pasangan kita untuk membuatnya bahagia? Perasaan bahwa tidak akan ada orang lain lagi yang akan kita cintai sebesar kita mencintai pasangan kita? Perasaan bahwa kita bersedia hidup dengannya tidak peduli rintangan atau halangan apapun yang nantinya akan muncul?

Cinta yang kita bawa ke dalam pernikahan bukanlah cinta monyet yang menutup mata terhadap kekurangan dan kelemahan pasangan kita. Cinta yang kita berikan tidak dibangun di atas ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Cinta bukanlah menerima kondisi pasangan kita dengan harapan bahwa kita akan bisa mengubahnya di kemudian hari. Cinta yang mendekatkan kita dan pasangan kita bukanlah cinta yang membutakan diri kita untuk melihat siapa sesungguhnya pasangan kita dan bagaimana hidup yang akan kita jalani bersamanya. Jika demikian, itu bukan cinta namanya. Itu adalah harapan anda mengenai pasangan anda dan mengenai kehidupan yang akan anda jalankan nantinya.

Cinta yang sesungguhnya adalah melihat kekurangan pasangan kita dan mengatakan bahwa kita tetap mengasihinya. Cinta yang sedungguhnya adalah bersedia menanggung akibat dari dosa yang dilakukan pasangan kita. Inilah yang Yesus lakukan bagi kita, mempelai wanitaNya. Cinta yang sesungguhnya adalah membiarkan pasangan kita menang dalam kondisi apapun, karena kemenangan diri bukan lagi sesuatu yang kita inginkan. Cinta yang sesungguhnya bersukacita ketika pasangan kita hidup benar, bukan hanya saat ia memberikan apa yang kita inginkan. Cinta yang sesungguhnya menangis ketika pasangan kita jatuh dalam dosa, bukan hanya ketika kita merasa disakiti olehnya. Cinta yang sesungguhnya memeluk pasangan kita lebih erat ketika ia menusuk hati kita.

Dalam pernikahanlah kita mengerti bahwa kasih menutupi segala dosa “love covers multitude of sin”.

Setiap kali anda mengucapkan “I love you” pada pasangan anda, maka anda mengatakan kesediaan anda untuk mati baginya. Mati bukan hanya secara fisik untuk melindunginya, tetapi juga mati setiap hari untuk kepentingannya. Mati di dalam keinginan kita, agar kita membuka jalan bagi tercapainya keinginan pasangan kita. Mati terhadap diri kita, supaya kita menjadi satu dengan pasangan kita. Mati terhadap identitas diri, karena sekarang anda memiliki identitas baru bersama dengan pasangan anda. Anda menjadi satu kesatuan dengannya di dalam Kristus, sumber kasih itu sendiri. Ketika kita berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari bersama dengan pasangan anda, maka kasih itu, cinta itu, yang sudah lama anda idamkan, akan anda rasakan setiap hari, bahkan setiap detik dalam hidup anda. Selamat mencintai pasangan anda!

Sumber : www.my-lifespring.com

Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu

April 18, 2008

Dalam pernikahan kita dipersatukan dengan seorang yang lain. Dengan seorang yang lain itu, kita hidup dalam satu rumah, melakukan kegiatan berdua, saling berbagi dan saling melayani. Sebenarnya jika kita pikirkan baik-baik, pernikahan tampak seperti ide yang ‘gila’ di mana kita mau meninggalkan keluarga kita untuk hidup dengan orang ‘asing’ yang awalnya bukanlah siapa-siapa yang kita kenal. Bagaimana mungkin kita mau dipersatukan dengan orang lain yang berasal dari keluarga yang tidak kita kenal untuk tinggal serumah dengan kita, untuk tinggal seumur hidup dengannya?

Sadar atau tidak, siap atau tidak, masuk ke dalam pernikahan berarti kita rela hidup dengan seorang lain dengan resiko dikecewakan, disakiti dan kehidupan yang mungkin sulit. Sebagian besar dari kita menutup mata dan membiarkan diri percaya pada ilusi bahwa dua pribadi berbeda dengan latar belakang berbeda yang hidup serumah akan merasa bahagia selamanya. Apakah kita mengabaikan fakta ini dan tidak menyadari bahwa sebenarnya menikah adalah langkah yang menyeramkan?

Dalam perbedaan ini, ditambah dengan natur kita yang egois, maka tidak jarang pernikahan sulit dipertahankan karena masing-masing pasangan merasa sudah tidak cocok lagi. Tidaklah mengherankan jika angka perceraian semakin tinggi. Penjelasannya mudah sekali: karena kita bukanlah orang yang rela berkorban untuk orang lain. Karena kita ingin berdiri sendiri sebagai pribadi yang mandiri dan bebas memutuskan untuk diri sendiri, termasuk memutuskan untuk berpisah dengan pasangan kita.

Jika kita berharap bahwa dengan menikah kita akan menjadi lebih merdeka (khususnya bagi mereka yang sering mengalami tekanan ketika tinggal bersama orangtua), maka anda pergi ke tempat yang salah. Menikah merupakan hal yang berat karena kita kehilangan kebebasan kita untuk bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita tidak lagi bisa melangkah ke manapun kita mau tanpa menyertakan pasangan kita dalam perjalanan tersebut. Kita tidak lagi merasa independen, melainkan bergantung pada pasangan kita untuk langkah-langkah yang akan kita lalui. Karena pernikahan yang sesungguhnya berarti menjadi satu dengan pasangan kita (Kejadian 2: ). Menikah berarti kehilangan identitas pribadi dan mengenakan identitas baru, yaitu kesatuan dengan pasangan kita.

Sekarang timbul pertanyaan: bagaimana mungkin dua pribadi yang berbeda menjadi satu? Apa yang dimaksud menjadi satu? Apakah menjadi satu berarti bahwa kita tidak lagi menjadi pribadi, melainkan hanya menjadi duplikat persis dari orang lain?

Ketika anda menikah, anda dipersatukan oleh Allah dan ini adalah ikatan yang tidak boleh diputuskan oleh manusia. Kesatuan paling indah dan sempurna adalah di dalam Allah Tritunggal, di mana tiga pribadi Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus saling menjadi satu dalam hubungan yang harmonis dan saling mengasihi. Seperti Allah Tritunggal, demikian jugalah indahnya kesatuan yang akan kita alami di dalam pernikahan. Menyatu bukan berarti kehilangan jati diri dan berhenti menjadi pribadi. Menyatu berarti melihat hal yang sama, memiliki kehendak yang sama, dan rindu melakukan hal yang sama (ayat: apa yang kudus, sedap didengar, pikirkanlah semuanya itu). Dipersatukan oleh Allah dan untuk Allah berarti masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, di mana kita akan dibentuk menjadi makin serupa dengan Allah. Kesatuan di dalam pernikahan tercapai ketika kita bersama-sama dengan pasangan merasakan apa yang Tuhan rasakan, melihat apa yang Tuhan lihat, dan melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan bagiNya, bagi pasangan kita, dan bagi orang lain yang Ia kasihi.

Menjadi satu dengan pasangan anda berarti anda merasakan apa yang ia rasakan, sekaligus membuka diri tentang apa yang anda rasakan. Menjadi satu berarti mengenal dengan utuh pasangan anda tanpa ada yang ditutup-tutupi. Menjadi satu berarti kehilangan hak anda untuk menjadi egois dan memberikan hak pada pasangan anda untuk berpikir, mengungkapkan dirinya dan menentukan langkah bersama-sama dengan anda. Menjadi satu berarti anda tidak lagi berpikir dan memutuskan masa depan anda sendirian, tetapi rela dipimpin oleh pasangan anda. Menjadi satu berarti anda tidak lagi menginginkan yang baik bagi anda secara pribadi, tetapi menginginkan apa yang baik bagi pasangan anda, karena ia adalah anda. Ketika anda menyakiti diri sendiri, anda menyakiti pasangan anda. Ketika anda menyakiti pasangan anda, anda menyakiti diri sendiri.

Pikirkanlah: adakah orang yang ingin menyakiti dirinya sendiri? Adakah orang yang menginginkan ketidakbahagiaan dalam hidupnya? Jawabannya adalah tidak. Ketika anda menyadari bahwa pasangan anda adalah anda, dan bahwa anda adalah pasangan anda, maka anda tidak ingiin menyakitinya. Maka anda ingin ia merasa bahagia (ayat sebagaimana manusia mengasihi istrinya, demikianlah ia mengasihi dirinya sendiri)

Ketika kita menjadi satu dengan pasangan kita, terjalin suatu hubungan yang sangat indah di mana kita melihat apa yang ia lihat. Ketika kita memandangnya dan melihat matanya, maka kita akan melihat diri kita sendiri, jujur dan terbuka di hadapannya. Kita menjadi telanjang dan apa adanya dan tidak merasa malu (ayat). Sekali lagi terciptalah hubungan kasih yang murni seperti di taman Eden dan kita mengalami apa yang dialami Adam dan Hawa. Kemanapun kita melangkah, kaki kita menjadi satu dengan kakinya. Apapun yang kita inginkan dan rasakan, hati kita menjadi satu dengan hatinya. Apa yang kita butuhkan bahkan sudah diketahui oleh pasangan kita. Kita mengasihinya, dan ia mengasihi kita. Inilah hubungan di mana kita bisa mencicipi kesatuan yang indah yang ada pada Allah. Inilah taman Eden (paradise) di bumi.

Sumber : My-lifespring.com

Melatih Kemampuan Bicara

April 18, 2008

Tak hanya penampilan elegan. seorang profesional juga harus punya kemampuan bicara yang baik. setiap orang punya kemampuan itu, asalkan ia mau belajar. Bagaimana cara melatihnya?
Seorang profesional tidak hanya dilihat dari penampilan luarnya saja, tetapi juga dari tutur bahasa. Seringkali kita melihat cara bicara seseorang yang tidak menunjukkan dirinya seorang profesional. Apa yang perlu diperhatikan seorang profesional dalam bertutur kata?

PENGGUNAAN ISTILAH ASING

Dalam pembicaraan dengan relasi, seringkali kita menyelipkan istilah atau kata-kata asing. Seperti: “Schedule saya sangat tight, saya mohon sebelum bertemu kita membuat appointment dulu….” Etiskah bila seorang profesional menggunakan bahasa yang seperti itu? Dari segi etis sebaiknya kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Alasannya, bahasa Indonesia mudah dimengerti setiap orang. Kita bisa tetap menggunakan bahasa asing, jika memang sulit mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Hanya sebaik-nya kita menguraikan maksudnya.

Lain halnya, jika lawan bicara kita mampu berbahasa Inggris. Maka, kita pengunakan saja bahasa itu dalam percakapan. Toh, bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Bahasa slank dalam percakapan sehari-hari juga bisa digunakan. Tapi sebatas untuk humor guna mencairkan suasana supaya tidak tegang.

TEKNIK BERBICARA YANG BAIK

Bicaralah ramah pada setiap orang. Perkataan/artikulasi pun harus jelas agar tidak terjadi miscommunication. Perhatikan pula pemilihan kata. Meski bertujuan baik, jika salah berkata-kata maka tujuan itu tidak akan tercapai. Lakukan kontak mata pada lawan bicara.

Saat bicara dengan atasan, usa-hakan fokus. Bicara seperlunya, Jangan ngelantur sehingga intinya malah tidak jelas. Kalau atasan memancing kita membicarakan masalah personal seorang rekan sekerja, sebagai bawa-han yang profesional sebaiknya kita berbicara diplomatis. Jangan menjelek-jelekan rekan kita.

TEKNIK BERBICARA DI DEPAN UMUM

Berbicara di depan umum bukanlah soal bakat. Kemampuan itu bisa dilatih. Seorang pendiam bisa tampil memikat di depan umum, asalkan ia mau belajar. Miliki kepercayaan diri. Kuasai bahan pembicaraan. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:

Tunjukkan antusias terhadap situasi dan pendengar.
Lakukan kontak mata 5-15 detik, dan tatapan kita pun harus bekeliling bukan pada satu orang saja. Jadi, semua orang merasa diajak berbicara.
Perlihatkan senyuman agar lawan bicara fokus pada kita.
Sisipkanlah humor, karena humor akan menghilangkan kejenuhan. Hindari humor yang berbau porno.
Fokus pada pembicaraan. Tidak perlu memperlihatkan semua wawasan yang kita punya, karena akan menunjukan kita sok pintar.
Berikan pujian yang jujur pada orang lain, tanpa menyimpang dari maksud.

TEKNIK BERBICARA PROFESIONAL

Seorang profesional perlu mengenal teknik presentasi yang efektif, seperti yang disebutkan diatas. Ada tiga faktor penting lainnya:
Faktor verbal, 7 %. Menyangkut pesan yang kita sampaikan termasuk kata-kata yang kita ucapkan
Faktor vokal, 38 %. Intonasi, penekanan, dan resonansi suara.
Faktor visual, 55 %. Penampilan kita.

Jadi, jangan menyepelekan penampilan dan suara, sehingga orang yang mendengarkan tidak bosan. Kita harus pintar mengaturnya sehingga menciptakan suasana yang “hidup” dan dinamis.

TEKNIK MEMBUKA DAN MENUTUP PEMBICARAAN

Untuk mengawali suatu pembicaraan, adakanlah small talk, seperti mengucapkan selamat pagi, siang atau malam. Untuk memancing perhatian pendengar, lemparkan joke ringan. Setelah itu baru ke topik utama. Akhiri pembicaraan dengan ilustasi dan summary hasil pembicaraan di dalamnya. Jadi, jangan bicara dari A sampai Z, sebaiknya diringkas sehingga orang mengerti dan tidak melupakan pesan atau intisari pembicaraan.

BISA DIPELAJARI

Berbicara atau berkomunikasi secara profesional menuntut kesiapan tiga hal. Pertama wawasan atau materi yang kita sampaikan, kedua cara penyampaian yang meliputi gerak, intonasi suara, dan penekanannya, ketiga penampilan kita. Semua itu bisa kita pelajari asalkan kita mau. Milikilah motivasi untuk maju dan berkembang. Kita pasti mampu mencapai keberhasilan yang diinginkan.

Oleh : Indayati Oetomo
Direktur Internasional John Robert Powers
(BM)