Posts Tagged ‘renungan blessing’

Renungan Blessing, 04 Juni 2008

June 4, 2008

Jurus Aikido
Amsal 26:17-28
“Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.” (Amsal 26:21)

Saya menyukai film laga yang dibintangi oleh Steven Seagal. Dalam setiap aksinya, dia tidak banyak melakukan gerakan. Ketika lawan menyerang, jagoan ini hanya melakukan sedikit gerakan saja, tapi sudah mampu melumpuhkan lawan. Dia menggunakan jurus Aikido. Ilmu beladiri dari Jepang ini memang unik, karena memanfaatkan tenaga dan serangan dari lawan untuk mempertahankan diri.
Dalam relasi sosial, kita dapat memakai jurus Aikido ini untuk mempertahankan hubungan baik. Apa yang sering kita lakukan ketika sedang berdebat atau bertengkar? Kita berusaha ‘menghabisi lawan’ kita dengan menyanggah habis-habisan semua ucapannya. Apakah teknik ini efektif? Tidak. Sebagian besar berakhir dengan sakit hati dan masing masing kekeh dengan pendapatnya.
Cobalah jurus Aikido ini. Caranya: Dengarkan ucapan orang itu. Carilah pernyataannya yang juga Anda setujui. Ulangilah pernyataannya itu dengan berkata begini:”Saya setuju dengan perkataanmu, bahwa…dst” kemudian selipkan pendapat Anda.
Dengan cara ini, panasnya “bara api” perbantahan dapat diredam karena kita berusaha mencari titik temu di antara perbantahan. Akar dari pertengkaran adalah perbedaan pendapat. Dengan memperbesar wilayah kesepakatan, maka niscaya pertengkaran akan berakhir [Purnawan].

SMS from God: Jika bertengkar, fokuslah pada upaya mencari titik persamaan dan mngurangi perbedaan pendapat.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Blessing, 03 Juni 2008

June 3, 2008

Iman dan Rasa Aman
“Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)
Roma 4:1-25

Pria itu pintar, tampan, terkenal dan otomatis tenar. Ia juga baik hati. Ia tampak akan berhasil dalam apa pun yang ia minati, usahakan dan kerjakan. Tampaknya, tak ada satu pun hal yang akan membuat dia gampang merasa tertekan.

Pria yang kelihatannya serba baik dan serba beres ini menjadi sosok idaman para pria di seluruh dunia. Namun, siapa yang dapat memberi jaminan bahwa semua yang terjadi dalam hidup pria ini akan selalu berlangsung aman? Tidak ada. Dirinya sendiri? Apa bisa?

Di dalamnya, jikalau kita meniti lebih peka, ada beda tipis — sangat tipis — antara iman dan rasa aman. Dengan keadaan yang segalanya baik dan beres, orang dapat tampil percaya diri dan merasa segalanya baik-baik saja. Hampir tampak tidak salah memang.

Namun, sadarkah kita bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang aman? Di dunia ini, cepat atau lambat, kita akan diperhadapkan kepada persoalan yang menuntut kita untuk mempercayai sebuah kekuatan yang lebih tinggi daripada kita. Di situlah iman dibutuhkan. Sayangnya beberapa dari kita baru menyadari kita perlu iman — dan perlu Tuhan — setelah sebuah masalah terjadi; dan selama waktu-waktu aman yang lain, kita melupakan Tuhan, kita memburamkan iman.

Kini, mari kita landasi hidup dengan iman, bukan dengan keyakinan akan kehebatan, kemampuan, bahkan keadaan kita saat ini. Ya, imanlah landasan hidup kita, bukan rasa aman. Imanlah yang membuat kita tak lupa Tuhan dalam segala situasi. (~s.n~)

“Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.” (Anonymous)

Sumber : gbihfc.org

Renungan Blessing, 02 Juni 2008

June 2, 2008

Stop Keluh Kesah
Bilangan 14: 1 – 38
“Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku; dan tulang-tulangku menjadi lemah.” – Mzm. 31: 11

Melihat kondisi tangannya yang masing-masing hanya berjari dua seperti capit, tak seorang pun percaya kalau orang dalam kondisi demikian bisa memainkan tuts piano dengan indahnya. Tapi Hee Ah Lee, gadis Korea membuat orang terpana. Dengan jari seperti capit dan kaki pendek membuatnya tampak cebol. Namun, dengan keterbatasannya itu ia mampu memainkan nada-nada sulit yang digubah para maestro musik klasik. Padahal tak satu pun not-not balok itu diciptakan untuk orang berjari capit. Ketika ditanya bagaimana ia melakukannya, Ah Lee hanya menjawab, “Stop berkeluh kesah! Keluh kesah tak mengubah keadaan. Yang penting berusaha dan bersyukur dengan keadaan kita.”

Sayangnya, kesepuluh pengintai dan bangsa Israel di masa Musa tak mengerti rahasia ini. Mendengar keluh kesah mereka, Tuhan pun bangkit amarah-Nya. Akhirnya mereka harus berputar-putar 40 tahun di padang gurun. Bahkan meninggal di sana dalam kesengsaraan. Herannya, banyak dari kita pun memberi respons yang sama ketika masalah menghadang. Bukannya mengucap syukur, kerap kali hal pertama yang kita lakukan adalah berkeluh kesah. Menyalahkan keadaan, kondisi, bahkan kadang kalau perlu orang lain. Padahal sikap hati kita yang berkeluh kesah itulah yang membuat situasi dan masalah bertambah runyam.

Keluarga Blessing, bagaimana dengan Anda hari-hari ini? Jika Anda merasa dihimpit masalah dan beban hidup, ada baiknya menggunakan resep sederhana Ah Lee. Stop keluh kesah dan fokuskan hati untuk mencari jalan keluar yang terbaik! [Epha]

SMS from God: Semakin banyak keluh kesah Anda ketika menghadapi masalah, semakin kecil kekuatan Anda untuk bersuka cita dan tetap bergembira.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Blessing, 30 Mei 2008

May 30, 2008

Jangan Matikan Nurani
Kejadian 19: 1 – 38

“Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan.” – Kej. 13: 12 – 13
Manusia kadang memang suka bermain api. Tak heran akhirnya hidupnya juga hangus oleh karena api. Contoh sederhana. Siapa pun tahu memelihara nurani adalah kunci sukses sejati. Tapi sangat banyak yang bermain api dengan hukum ini. Memang mereka tetap sukses karena mereka bekerja keras. Tapi pada akhir hidupnya, semua tetap terbukti. Yang memakai nurani bisa bertahan, yang mematikan nurani sampai di titik kehancuran.

Lot contohnya. Ia orang benar. Percaya Tuhan. Sayangnya, ia orang benar yang mematikan nurani. Memang ia sukses. Ia kaya. Hartanya banyak. Peternakannya diberkati luar biasa. Tapi Lot bermain api dengan hidupnya. Ia tahu Sodom itu kota yang jahat. Di sana banyak tinggal orang bejat. Jalan hidup mereka sungguh sangat berdosa. Tapi Lot mematikan nuraninya. Toh aku bisa sukses di tengah-tengah mereka. Tanpa ia sadari, gaya hidup Sodom merasuki keluarganya. Bahkan ia tak malu menyerahkan anak-anak perempuannya untuk ditiduri hanya karena ia ingin menyelematkan tamunya. Tak heran anak-anaknya pun berani melakukan hal yang sama. Lot memang orang benar, hanya saja ia orang benar yang mematikan nuraninya.

Keluarga Blessing, nurani adalah alat yang Tuhan tempatkan untuk memberikan alarm kepada kita sehingga kita terhindar dari jalan hidup yang menyerong di hadapan Tuhan. Mematikannya sama saja dengan Anda hendak bermain api. Suatu saat, justru hidup Andalah yang hangus karenanya. Lebih baik, asahlah nurani sejak sekarang, supaya kita terhindar dari jerat-jerat kehidupan. [Epha]

SMS Blessing: Kesuksesan yang diraih dengan mematikan hati nurani, justru akan membawa hidup kita ke jalan-jalan kehancuran.

Sumber: gbihfc.org

Renungan Blessing, 29 Mei 2008

May 29, 2008

Jangan Sembarang Meniru
3 Yohanes 1:5-12

“Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah” (3 Yohanes 1:11)

Meniru perilaku seseorang secara mentah-mentah bisa menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal ini pernah dialami oleh orang-orang yang diundang makan malam oleh presiden Coolidge di Gedung Putih.

Sebagai orang awam, mereka tidak tahu etiket di meja makan pada acara resmi. Karena itu mereka sepakat untuk menirukan semua yang dilakukan oleh tuan rumah, yaitu presiden Coolidge. Semua berjalan lancar sampai ketika sajian kopi dihidangkan. Presiden Coolidge lalu menuangkan kopi ke atas piring lépék. Para tamu melakukan hal yang sama. Presiden menambahkan gula dan krim. Para tamu juga menirukan. Kemudian Presiden membungkukkan badan dan menyodorkan piring lépék itu pada kucing peliharaannya!

Rasul Yohanes menulis peringatan kepada Gayus, “Jangan meniru yang jahat, melainkan yang baik.” Mengapa Yohanes menulis demikian? Karena di jemaat ada seorang bernama Diotrefes yang tidak mengakui kewibawaan penatua. Dia menganggap diri lebih berkuasa dan menolak menerima misionaris(seperti Yohanes dkk). Dia bahkan mengusir orang yang mau menerima misionaris.

Pada akhir zaman ini akan ada banyak pemimpin yang memikat kita untuk mengikutinya. Yang menyulitkan kita, apa yang ditawarkan olehnya itu kelihatannya baik dan “kristiani.” Kita menjadi bingung membedakannya. Tapi jangan cemas, Yesus sudah memberikan pedomannya, yaitu dengan melihat buahnya (Mat. 12:33) [Purnawan]

SMS from God: Kompas hidup kita adalah Alkitab. Dengan mengerti firman Tuhan, hidup kita tak akan kehilangan arah.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Blessing, Rabu 28 Mei 2008

May 28, 2008

Ingat Janji
1 Samuel 1: 1 – 28

“Kalau engkau bernazar kepada allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.” – Pkh. 5: 3
Saya pernah punya pengalaman unik dengan HP pertama saya. Sebelumnya, saya berdoa lama untuk memiliki HP. Karena tampaknya mustahil, saya pun bernazar. “Tuhan, kalau Engkau beri saya HP, saya akan jual dan uangnya untuk pelayanan.” Sejujurnya, saya berdoa seperti itu karena saya merasa mustahil dibelikan HP. Namun, Tuhan ternyata tidak main-main. Ketika pulang kampung, Mama membelikan saya HP. Saya ingat akan janji saya sama Tuhan namun saya selalu bilang, “Nanti saja ya, Tuhan. Kan ini HP baru. Saya pakai dulu ya…” Anda tahu apa yang terjadi kemudian? Setelah setahun , HP saya tiba-tiba rusak tanpa sebab. Saya diberi pelajaran berharga. Mudah memberi janji pada Tuhan. Tapi setelah keinginan kita dipenuhi-Nya, kita sering menunda-nunda menepati janji kita.

Hana tidak seperti itu. Kalau Anda jadi Hana, sudah berdoa bertahun-tahun untuk dapat anak, dan ketika Tuhan jawab, bisakah Anda langsung menepati nazar Anda? Bisa jadi Anda seperti saya, ingin menunda-nundanya, bukan? Tapi Hana tidak. Ia menepati nazarnya kepada Tuhan. Sebagai ibu, Hana pasti masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Samuel. Tapi Hana mengerti akan arti penting menepati janji, terutama janji yang pernah diucapkan di hadapan Tuhan.

Keluarga Blessing, janganlah pernah bermain-main dengan janji, apalagi janji di hadapan Tuhan. Lebih baik kita tidak berjanji, daripada kita tidak menepati. Namun, jika Anda pernah berjanji, tepatilah dan jangan menundanya. Karena di situlah nilai integritas kita berada. [Epha]

SMS Blessing: Orang yang sering mengingkari janjinya sendiri adalah orang yang merendahkan arti integritas dirinya di hadapan orang lain.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Blessing, 21 May 2008

May 21, 2008

Hidup dengan Benar
Kejadian 6: 1 – 22

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” – 1 Yoh. 2: 16
Tantangan dan tawaran dunia makin lama makin menggiurkan. Dosa sekarang ini dianggap sebagai gaya hidup. Sayangnya, banyak anak Tuhan ikut-ikutan gaya hidup dunia. Meski rajin beribadah, mereka tidak berani hidup radikal dan total kepada Tuhan. Tak berbeda dengan zaman Nuh. Waktu itu pun semua orang hidup dalam kejijikan dosa. Tak ada yang mau hidup benar. Tapi Tuhan melihat sesuatu yang beda dalam hidup Nuh. Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela, dan Nuh itu bergaul dengan Allah.

Meneladani hidup Nuh, ada tiga hal yang harus kita lakukan supaya tidak tercemar. Pertama, hidup benar di hadapan Allah. Artinya, tidak hidup abu-abu, atau mengerjakan kebenaran firman dengan setengah-setengah. Dalam Tuhan tidak ada dosa putih (atau berbuat dosa demi kebaikan). Kedua, hidup tidak bercela. Artinya, hidup dengan kemurnian sehingga ketika orang mencari-cari kesalahan kita, mereka tidak mendapatinya. Ketiga, hidup bergaul dengan Allah. Orang yang hidup bergaul dengan Allah akan mampu melawan godaan dosa. Akan tetapi, jika kita hanya sekadar menjalankan ibadah sebagai ritual, kita tentu tidak akan kuat melawan godaan dunia.

Keluarga Blessing, semua yang ada dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Allah. Hidup dalam Allah tidak digerakkan oleh keinginan daging, tapi berdasarkan ketaatan total. Jika kita ingin didapati hidup berbeda, kita harus belajar membangun hidup di atas kebenaran, kekudusan dan keintiman dengan Tuhan. [Epha]

SMS Blessing: Ketaatan total artinya melakukan firman Allah tepat seperti apa yang Allah katakana, tidak lebih dan tidak kurang.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.