Posts Tagged ‘Renungan Profesional’

Renungan Profesional, 04 Juni 2008

June 4, 2008

DIPAKSA UNTUK SUKSES
Wednesday, 04 June 2008
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20).

Profesional, seorang dokter lulus dengan cum laude dari alma maternya. Karena mencintai Indonesia, teman saya itu dengan setia melayani di puskesmas, walaupun dia secara materi berkecukupan dengan bisnisnya. Suatu hari timbul keinginannya untuk meneruskan ke jenjang S-2. Dia ingin mengambil spesialis mata. Walaupun cerdas dan lulus cum laude, dia ditolak masuk S2.

Meskipun kecewa, dia tidak marah. Dia justru menekuni bisnisnya. Dia bahkan merintis bisnis waralaba lokal di bidang apotek. Bisnisnye berkembang dengan baik. Karena panggilan nurani, dia bersedia ketika diminta untuk mengelola institusi pendidikan yang hampir bangkrut. Dengan tekun dia mempelajari dunia pendidikan dan menjadikan sekolah itu menjadi sekolah unggulan. Dia berhasil. Sekolah itu tidak lagi merugi, bahkan sudah bisa mengembangkan program-program lainnya.

Profesional, ketika menengok ke belakang, teman saya itu bisa bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bapa di surga. Sebagai manusia, dia kecewa saat cita-citanya untuk menjadi dokter spesialis mata gagal. Namun,kegagalannya itu justru memacunya untuk berhasil di bidang lain. Kini dia bisa melihat bahwa penyertaan Tuhan itu sempurna. Manusia bisa saja menggagalkan obsesinya, tetapi Tuhan menggantikannya berlipat kali ganda. Apa obesi Anda yang tampaknya gagal? Serahkan kepada Tuhan dan Dia akan membalikannya. (Xavier).

Doa: Bapa, aku percaya Engkau tidak pernah mengecawakanku. Apa pun yang terjadi, aku tetap bergantung harap kepada-Mu.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, 02 Juni 2008

June 2, 2008

HEMAT TANDA BERHIKMAT
Monday, 02 June 2008
“Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat” (Yesaya 55:2).

Profesional, awal tahun ini, saya dikirimi kalender oleh sebuah kampus. Di kalender meja itu tercetak kata-kata mutiara yang berbunyi, “Never spending your money before you have it!” Kata-kata itu terasa sangat tepat di zaman ini saat orang-orang cenderung memakai kartu kredit tanpa memikirkan konsekuensinya. Saya dengar ada seorang yang sampai memiliki puluhan kartu kredit dan akhirnya terlilit hutang serta tidak bisa bayar.

Mengapa orang bisa terjebak oleh jerat hutang kartu kredit? Pertama, banyak orang yang memiliki kartu kredit bukan untuk kemudahannya saja, tetapi untuk gengsi. Apalagi saat ini ketika bank-bank mempermudah pemberian kartu kredit mulai Silver, Gold sampai Platinum. Kedua, dengan tidak membayar secara kontan, orang seringkali lupa bahwa uangnya di bank tidak cukup untuk membayar tagihan kartu kreditnya, sehingga “Lebih besar pasak daripada tiang” benar-benar menimpanya. Ketiga, jika satu kredit diblokir, dia masih bisa memakai kartu kredit lainnya, sehingga lubang yang dia ciptakan semakin besar dan dalam sehingga membuatnya sulit melompat keluar dari jurang hutang.

Profesional, itulah sebabnya mengapa pepatah kuno “Hemat pangkal kaya” masih tetap berlaku sampai sekarang. Jika Anda memiliki kartu kredit, gunakan seperlunya. Ingat betul batas kreditnya dan jangan dilanggar. Bayar lunas secepat mungkin karena tunggakan kartu kredit biasanya cukup tinggi. Bila takut lupa membayar, pakai saja fasilitas auto debet. Selamat berhemat dan rasakan manfaatnya. (Xavier).

Doa: Bapa, terima kasih atas teguran-Mu lewat renungan pada hari ini. Ajar aku untuk bertanggung jawab dengan berkat yang Engkau berikan.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, 30 Mei 2008

May 30, 2008

THE POWER OF FOCUS
Friday, 30 May 2008
“Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu. Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (Ulangan 5:32).

Profesional, apa yang ada dalam bayangkan Anda apabila saya menyebutkan tokoh yang bernama Michael Jordan, David Coperfield, atau Julia Roberts? Dunia mengenal Michael Jordan sebagai pemain basket yang handal. David Coperfield sebagai pesulap internasional. Dan Julia Robert sebagai pemain film. Mengapa bila ditanya dengan pertanyaan tersebut, semua orang akan menjawab hal yang sama?. Jawabannya karena ketiga tokoh dunia di atas melakukan pekerjaannya dengan fokus. Mereka menjadi orang-orang yang sangat ahli dibidangnya masing-masing dan memiliki karakter yang unik.

Tahukah Anda bahwa kekuatan sebuah fokus ternyata menyimpan energi yang besar? Bandingkan saja kekuatan cahaya matahari yang panasnya mencapai 5500 derajat dengan sebuah laser yang memiliki panas hanya beberapa derajat saja. Sebuah laser dapat melubangi batu-batu berlian sedang panas matahari tidak. Mengapa? Karena laser menggunakan panas yang difokuskan sedang matahari panasnya menyebar (tidak fokus).

Profesional, untuk menjalani tahun 2008 ini, Anda pasti sudah membuat banyak resolusi yang ingin dikerjakan dan dicapai bukan? Setiap orang bisa saja membuat gol atau sasaran yang besar dan detail. Tetapi tidak semua orang bisa tetap setia berjalan pada komitmen yang sudah ditulisnya. Karena itu, kita membutuhkan sesuatu yang bernama fokus. Tanpa fokus yang jelas dan kuat, mustahil kita bisa sampai di garis finish dengan kemenangan.

Hari ini mari kita kembali memperbaharui fokus kita yang mungkin sudah mulai memudar. Ingat bahwa dunia hanya mengakui orang yang benar-benar fokus pada pekerjaannya. Mereka yang suka memanfaatkan aji mumpung tidak akan pernah menjadi pribadi yang mahir dan ahli. (Imelda).

Doa: Bapa, aku berdoa apa saja yang aku lakukan dengan tanganku dalam takut akan Tuhan dan fokus, Engkau membuatnya berhasil!

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, 29 Mei 2008

May 29, 2008

HARGAI DIRI ANDA
Thursday, 29 May 2008
“Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat, dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut.” (1 Raja-Raja 4:29).

Profesional, mungkin Anda pernah bertemu dengan seseorang yang suka mengeluh tentang kekuarangan dirinya. Baik kekurangan fisik maupun keterbatasan lainnya. Saya sendiri pernah mengalami hal tersebut. Bertemu dengan seorang teman yang sering mengatakan hal-hal yang negatif tentang dirinya sendiri. “Saya tidak punya talenta seperti yang lain, saya orangnya minderan, saya malu bila berbicara dengan banyak orang.” Begitu katanya. Dan masih banyak lagi kata-kata negatif yang dia lontarkan. Saya jadi capek menghadapinya.

Teman saya itu adalah salah satu contoh orang yang mengalami krisis rendah diri. Dan tahukah Anda di dunia ini banyak orang yang suka mengecilkan dirinya sendiri? Merasa diri tidak mampu, tidak menarik, tidak mampu bersaing dsb. Yang diperhatikan justru segala kekurangan pada dirinya. Sikap seperti ini jelas akan menghambat kita untuk meraih sukses. Bila kita ingin berhasil, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah dengan berhenti berkeluh –kesah tentang poin minus yang dimiliki tetapi justru lebih melihat poin plus pada diri kita.

Setiap orang pasti memiliki talentanya masing-masing. Karena itu daripada sibuk menjelekkan diri sendiri, mengapa kita tidak berusaha mencari, menggali, menemukan dan mengembangkan potensi kita?

Profesional, seorang wanita yang baru berhasil dipromosikan di kantornya pernah mengatakan demikian, “Dari pada saya terus mencaci-maki soal keterbatasan kemampuan saya, lebih baik saya berusaha memaksimalkan kekuatan saya dan meminimalkan kelemahan saya.” Saya setuju dengan pendapat wanita tersebut. Karena bila kita ingin mengalami sukses, kita perlu belajar untuk menghargai diri sendiri lebih dulu. Bagaimana menurut Anda? (Imelda).

Doa: Bapa, aku percaya Engkau mengasihiku, karena itu Engkau memberikan kelebihan dan kemampuan agar aku menjadi pribadi yang unik.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, Rabu 28 Mei 2008

May 28, 2008

RAHASIA KEBAHAGIAAN
Wednesday, 28 May 2008
“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.” (Kisah Para Rasul 2:28).

Profesional, di bawah ini ada beberapa rahasia kebahagiaan yang dapat membuat hidup kita terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Jangan terlalu mengandalkan kekayaan. Kekayaan dapat sirna. Percayalah pada Dia yang dapat membuat kita tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang. Dukacita menjadi sukacita. Dan kesedihan menjadi kebahagiaan.

Angankan apa yang Anda ingin lakukankan, pergilah kemana Anda ingin pergi, jadilah seperti yang Anda kehendaki, sebab hidup hanya satu kali dan Anda tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan segala hal yang Anda ingin lakukan.
Jadilah cukup kuat untuk menghadapi dunia setiap hari. Jadilah cukup lemah untuk mengetahui bahwa kita tidak dapat mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Jadilah seorang pemimpin ketika tidak ada jalan. Jadilah pengikut ketika kita terkurung di tengah-tengah ketidakpastian.

Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah.. Karena hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup, melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia.
Belajarlah untuk bersikap tenang. Karena di saat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Di saat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kebahagiaan.

Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih yang terbaik untuk hidup.
Profesional, Anda tertarik untuk menikmati kebahagiaan dalam hidup ini? Cobalah dan rasakan dampak positifnya bagi kehidupan Anda. Good luck! (Imelda).

Doa: Bapa, hidup yang kujalani ini hanya sekali, karena itu aku mau menikmatinya bersamaMu dengan kebahagiaan dan sukacita.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, 22 May 2008

May 22, 2008

MENGATASI PENYAKIT DALIH
Thursday, 22 May 2008
“Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12).

Profesional, sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul dalam beberapa bentuk. Seperti dalih kesehatan, usia, inteligensi, nasib dsb.

Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini kita masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri kita dibelenggu oleh dalih-dalih tersebut. Theodore Roosevelt pernah berkata “Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada.”

Profesional, ada sebuah syair dari Afrika yang dapat membantu memotivasi kita. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari. Selamat tinggal penyakit dalih! (Imelda)

Doa : Bapa, ajarku untuk bertanggung jawab atas hidupku dan tidak menyalahkan keadaan atau siapapun karena Engkau Allah yang adil dan baik.

Sumber : gbihfc.org

Renungan Profesional, 21 May 2008

May 21, 2008

BERKARYA DI USIA SENJA
Wednesday, 21 May 2008
“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” (Mazmur 92:15).

Profesional, pepatah Cina mengatakan bahwa jahe semakin tua semakin pedas. Banyak orang yang berkarya besar bukan pada usia yang produktif, melainkan pada masa tuanya. Dengan keterbatasan fisik di masa tua, mereka tetap menghasilkan mahakarya pada saat kesempatan datang. Mereka adalah :
* Winston Churchill menjadi seorang perdana menteri pada usia 81 tahun.
* Clara Barton memimpin Palang Merah Internasional pada usia 83 tahu
* Oliver Wendell Holmes menjadi hakim agung pada usia 90 tahun.
* Toscanini menjadi seorang konduktor orkestra ternama di dunia pada usia 87 tahun.
* John Wesley masih berkhotbah dengan bersemangat pada usia 88 tahun.
* Robert Frost menulis puisi-puisi termasyurnya pada usia 80 tahun.
* Connie Mack memimpin tim pemenang baseball pada usia 88 tahun
* Arsitek Frank Lloyd Wright menghasilkan karya terbaiknya pada usia 86 tahun.

Tua hanya ada dalam pikiran. Jika Anda tak dapat lagi bermimpi, jika harapan sudah membeku, jika Anda sudah tidak dapat lagi memandang ke depan, jika nyala ambisi sudah redup, maka jadilah Anda tua. Tetapi jika dari hidup ini diambil sarinya, jika Anda masukkan semangat di dalam hidup, jika Anda mempunyai kasih sayang, maka berapapun tahun-tahun yang sudah berlalu, Anda tetap muda dan remaja.

Profesional, tidak menjadi masalah berapa pun usia kita saat ini. Yang terpenting adalah hidup kita selalu menjadi berkat bagi sesama. Karena itu, tetaplah bekerja dan berkarya karena tidak akan ada yang dapat menghambat ide brilian Anda, bahkan usia sekalipun. Anda setuju? (Imelda).

Doa: Bapa terima kasih untuk setiap usia yang kau tambahkan setiap tahunnya. Ajari kami semakin bijak dan dewasa dalam hidup ini.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.