Kasih Berarti Memberikan Segalanya

Pada umumnya dunia mengenal istilah take and give, suatu istilah dimana orang yang memberi akan mengharapkan suatu imbalan. Hal ini terjadi hampir dalam segala hubungan atau interaksi antarmanusia. Bahkan give sudah dibebani syarat kepada pihak lain untuk give ulang kepada yang memberi. Ketulusan berinteraksi menjadi sesuatu yang nyaris musnah dari muka bumi. Tetapi syukurlah keberadaan dunia yang miskin kasih itu tidak berlaku dalam kehidupan iman kristiani. Teladan yang ditunjukkan Yesus Kristus dapat menjadi panutan dalam berinteraksi. Berkat yang Dia anugerahkan kepada kita tidak sebanding dengan upaya maksimal kita dalam berinteraksi dengan-Nya.

Begitu kasih kita tulus kepada-Nya, segala hal yang tidak kita perkirakan dan kita duga akan menjadi milik kita. Namun, apakah ada hubungan sebab-akibat antara kasih Tuhan kepada kita dan berkat jasmani yang kita terima? Tidak ada! Perlu kita ketahui hak pemberian berkat dari Allah adalah kedaulatan Tuhan. Ia bebas dan tidak tergantung pada pertimbangan apa pun untuk melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Inilah yang sering membuat orang kecewa. Karena begitu dia memberi, harapannya Tuhan akan membalas dengan pemberian yang berlipat.

BUKAN IMBAL JASA

Pemberian bersyarat ini Tuhan sudah tahu. Motivasi apa pun yang tersembunyi di dalam hati kita, Ia tahu. Kalau itu yang menjadi motivasi kita, siap-siaplah kecewa. Bahkan kesukaran yang tidak pernah diperkirakan akan terjadi. Karena kita menyuap Tuhan. Kita memandang Tuhan tidak tahu dan menyamakan dengan manusia. Ini merupakan dosa yang harus dihindari. Pemberian dan kasih kita kepada Tuhan hendaknya tulus. Penuh cinta dan kasih kepada-Nya. Ia mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan kita. Kita patut mengasihi-Nya tanpa syarat. Dengan begitu semua yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita akan dianugerahkan kepada kita.

Pemberian kita merupakan pem-berian tulus yang berarti menyembah, memuji, mengagungkan nama Tuhan. Kalau Tuhan mau membalas pemberian dari kita, sudah sepatutnya kita bersyukur. Namun demikian, bukan itu intinya. Sudah selayaknya kita memberikan apa yang ada pada kita untuk kemuliaan nama Tuhan di bumi dan surga.

Dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah duhulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Firman ini dapat diartikan beberapa hal menyangkut kasih dan berkat Tuhan.

1. Cari dahulu Kerajaan Allah.
Siapa yang tidak mau menerima berkat? Semua orang pasti mau me-nerimanya. Tetapi, bagi kita pengikut Kristus, jangan jadikan hal itu sebagai yang utama. Kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah. Karena setelah itulah berkat akan ditambahkan. Dahulukanlah Tuhan, niscaya hidup kita akan penuh dengan berkat. Jika kita memberikan lebih banyak dari yang Tuhan perintahkan pada kita, dengan kasih Tuhan, berkat dari-Nya tidak akan berkesudahan.

2. Tuhan menjanjikan kita berkatnya.
Berkat dari Tuhan selalu terkandung di balik janji yang Dia berikan. Itu semua akan berlaku bila kasih yang kita nyatakan kepada-Nya tulus. Seperti kata Paulus, “Kalau di atas muka bumi ini engkau ada hanya untuk hal-hal seperti itu. Kau adalah manusia yang paling celaka”. Jangan berfokus pada materi.

3. Jangan menganggap materi sama dengan berkat.
Manusia kerap menganggap materi adalah berkat Tuhan. Ini keliru. Akan fatal bila kita berpandangan demikian. Tubuh kita yang sehat itu sudah merupakan berkat Tuhan. Damai dan suka cita juga berkat Tuhan. Keselamatan yang Tuhan berikan pada kita itu tak bisa dibandingkan dengan apa-apa. Hingga Tuhan Yesus pernah berkata “Apa artinya manusia memiliki isi dunia ini tetapi jiwanya binasa!”

Tuhan mengasihi kita dengan cara yang luar biasa. Kita tidak akan bisa menerjemahkan berkat apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita. Kapan Tuhan akan berikan berkat-Nya? Kita tidak tahu. Sebagai umat Tuhan, fokus kita jangan diarahkan pada berkat atau pada rupa kecil-besar berkat itu. Kasih Allah yang sangat besar itu sudah merupakan berkat.

(Oleh : Pdt. DR. Freddy Pattiradjawane)
Penulis adalah Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) dan gembala sidang GPdI Antiokhia, Jakarta Selatan

Tags:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: