Spending Time with Their Peer

Dalam beberapa seminar tentang remaja, seringkali muncul pertanyaan seperti ini:

“Mengapa anak saya sepertinya gak suka kalau saya berusaha dekat dengan dia?”, “Ada gak sih resep supaya anak remaja kalau pulang ke rumah gak langsung masuk kamar dan tutup pintu seakan gak mau diganggu?”, Kenapa mereka lebih mau dengar apa kata teman ketimbang saya sebagai orang tuanya?” Sebaliknya banyak remaja yang berkata: ” Sebal begini gak boleh, begitu gak boleh!”, “Aku gak suka sama ortuku yang protect banget deh”, ” Aku gak pernah bisa cerita sama mereka abis dicurigain terus!”.

Anak yang dulunya manis, dekat dan menurut apa kata orang tua, sekarang mendadak menjadi mahluk aneh, pemberontak bahkan kadang bersikap memusuhi. Sebagai orang tua atau pembimbing jadi stress dan bingung menghadapinya. Di satu sisi kita ingin mereka terbuka dan jadi sahabat, tetapi di sisi lain kita ingin mereka tunduk pada otoritas kita sebagai orang yang lebih tua. Apalagi kitapun semakin kuatir dengan adanya kemungkinan mereka terlibat ke dalam pergaulan yang salah melihat pengaruh lingkungan maupun berita-berita miring soal remaja bermasalah.

Si remajapun memasuki kondisi yang tidak mengenakkan. Ia ingin dianggap dewasa, tetapi sebenarnya pola pikir mereka belum matang. Mereka ingin mencoba hal-hal baru termasuk diterima dalam lingkup pergaulan tertentu, tetapi seringkali kurang dipercaya oleh orang tua.

Sebenarnya masalah ini akan lebih mudah ditangani apabila masing-masing pihak berusaha memahami posisi pihak lainnya dan berusaha menyesuaikan sehingga tetap tercipta komunikasi antar keduanya.

Masa remaja adalah masa di mana mereka mengalami perkembangan secara sosial. Mereka mulai belajar melepaskan diri dari pengaruh orang tua. Mereka mulai terjun ke dalam masyarakat. Bahkan mereka suka membuat kelompok atau gank tersendiri. Kegiatan permainan, pesta, jalan-jalan menjadi minat mereka saat itu. Mereka ingin membentuk kelompok sosial tertentu, ingin diterima oleh teman atau lingkungan mereka. Yang unik ternyata percakapan atau istilah remajanya curhat adalah salah satu minat sosial yang dialami remaja. Mereka suka mengeluarkan isi hati mereka dan memperoleh pandangan baru terhadap masalah yang dihadapi.

[1] Sindrom penerimaan dalam kelompok sosial dilukiskan seperti kesan pertama yang positif karena penampilan yang menarik (sesuai dengan gaya saat itu), mudah bergaul, atau mudah diajak kerjasama. Sayangnya para remaja tidak selalu ramah dengan teman sebayanya. Kadang-kadang mereka mengucilkan atau menyebarkan gosip yang buruk tentang remaja yang dianggap aneh atau tidak disukai.

Akibatnya, bila remaja berhasil diterima maka tidak ada masalah. Namun apabila ia gagal maka ia akan merasa minder atau tertolak. Lingkungan dan kelompok sosial (peer) seperti apa yang menerima mereka menentukan kepribadian mereka di masa yang akan datang. Selain ingin coba-coba, seringkali alasan mereka untuk merokok, memakai narkoba, kebut-kebutan adalah supaya mereka diterima dalam lingkup sosial. Keinginan mereka untuk diterima berkaitan erat dengan proses pencarian jati diri mereka. Jadi kesuksesan mereka dalam perkembangan sosial sangat penting buat seorang remaja.

Erickson menyebut masa remaja sebagai tahap Identity vs Role Confusion. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang dewasa. Apakah nantinya ia dapat menjadi seorang suami atau ayah. Apakah ia mampu percaya diri sekalipun latar belakang ras atau agama atau nasionalnya membuat beberapa orang merendahkannya. Secara keseluruhan, apakah ia akan berhasil atau gagal.

[2] Semakin mendekati akhir dari masa remaja, maka kelompok yang diminati remaja makin diperkecil. Mereka akan lebih menyukai kelompok yang memiliki nilai-nilai dan minat yang sama ketimbang kelompok besar yang lebih heterogen.

Bisa dikatakan perkembangan sosial adalah tahap yang paling sulit dialami remaja. Bila ia bertahan terhadap tekanan bahkan bisa diterima dan merasa dihargai maka untuk selanjutnya ia akan merasa aman. Namun kalau lingkungan yang membuat ia aman adalah lingkungan sosial yang buruk maka akan sulit buat dia keluar dari lingkungan tersebut. Bahkan bisa jadi ia menjadikan lingkungan tersebut sebagai identitas keberadaan dirinya di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu kehadiran dan kepedulian orang tua atau pembimbing remaja sangat penting bukan lagi sebagai pihak yang mengatur secara otoriter, tetapi lebih kepada posisi mentor (berjalan di sisi mereka). Sebagai pihak yang lebih tua harus bersikap arif dan belajar mendengarkan bukan menggurui. Kita harus lebih banyak mengajukan pertanyaan yang mengarahkan mereka untuk bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Ada sebuah cerita dari seorang ibu yang mencoba masuk dalam dunia anak remajanya dengan sengaja menyediakan rumahnya sebagai tempat berkumpul kawan-kawan anaknya. Dengan begitu dia bisa mengawasi sekaligus mengenal kawan anaknya yang baik dan bisa menjadi andalan apabila si remaja sedang memberontak. Suatu kali anaknya menolak untuk disuruh tidur karena masih asyik main game. Ibunya mengirim SMS kepada kawan anaknya untuk menolong memotivasi anaknya supaya tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, si anakpun segera memilih tidur setelah disms kawannya.

Selain itu, kitapun bisa membantu mereka menemukan lingkungan yang pas dengan keunikan dan ketertarikan mereka. Misalkan mereka suka dengan musik, maka kita bisa mendorong mereka untuk masuk dalam lingkup social gereja di bagian musik. Atau bagi mereka yang suka kutak katik di depan komputer, kita bisa arahkan untuk membantu pelayanan multi media. Tidak selalu harus rohani, yang penting lingkungannya bisa memberikan stimulan untuk mereka bisa berkembang dan membawa dampak positif dalam hidup mereka. Hati-hati jangan terlalu memaksa karena remaja membutuhkan ruang untuk mereka mencoba dan berhenti.

Sebagai remaja, belajarlah untuk terbuka dan memahami kekuatiran orang tua. Tunjukkan bahwa kamu bisa dipercaya dan ajak kawan-kawanmu untuk berkenalan dengan orang tua. Dengan begitu orang tuapun merasa tenang dan belajar untuk menjadikan anaknya lebih mandiri dan dewasa.

Agar tidak sampai salah langkah, seorang remaja alangkah lebih baiknya memiliki beberapa mentor dalam hidupnya sebagai tempat ia bertanya dan dibentuk pola pikirnya untuk masa yang akan datang. Selain itu mentor-mentor ini akan membantu remaja untuk bisa memilih lingkup sosial yang tepat, yang sesuai dengan kapasitas, karunia dan talenta si anak sehingga ia makin berkembang dalam kemampuannya.

Bagi orang tua atau remaja yang sedang mengalami pergumulan pertanyaan-pertanyaan di atas, mari belajar terbuka dan coba memahami orang lain sehingga pergumulan perkembangan sosial bisa terlewati dengan baik.

Sumber : http://www.my-lifespring.com

Tags: , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: