Faith Journey Pada Remaja

Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?
Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;

Yoh 6:68

“Tuhan tolong lindungi boy, anjing kesayangan saya supaya dia tidak dibunuh orang jahat”. Itulah doa paling sungguh-sungguh yang saya panjatkan waktu saya berusia 5 tahun di tengah isu gempuran massa yang melempari batu ke rumah-rumah di Bandung di tahun 1974. Kekuatiran saya makin bertambah ketika orang-orang di rumah mengatakan saya harus lompat ke rumah belakang tanpa membawa boy kalau para perusuh datang. Takut tapi juga kelelahan, saya akhirnya tertidur pulas. Ketika saya terbangun keesokannya, betapa bahagianya saya karena rumah kami tidak kena amuk massa dan yang paling penting, anjing saya selamat. Itulah momen pertama saya merasakan relasi pribadi dengan Tuhan. Buat saya, Tuhan itu baik dan hebat karena Ia meluputkan kami dari bahaya. Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan mama tentang siapa Tuhan itu.
Dalam masa pra remaja, saya mulai suka membaca termasuk Alkitab dengan berbagai cerita di dalamnya. Saya kagum dengan berbagai cerita kepahlawan tokoh-tokoh Alkitab di Perjanjian Lama, khususnya yang mempertunjukkan kemenangan atas kejahatan dalam bagian akhir. Justru yang saya tidak suka adalah pada saat saya memasuki kisah kematian Yesus di kayu salib. Saya tidak memahami mengapa kalau Allah sungguh ada, Dia maha kuasa dan maha baik, Dia membiarkan Yesus mati dengan cara yang sangat mengenaskan dan memalukan? Saya tidak ketemu jawabannya. Saya putuskan melewatkan kisah itu dalam ketidak mengertian. Orang tua, guru, beberapa orang yang katanya lebih dewasa rohani mengatakan Tuhan itu baik. Saya pikir saya juga harus memiliki keyakinan seperti itu, tetapi dalam perjalanan waktu saya makin sulit mempertahankan keyakinan tersebut.
Banyak ketidakkonsistenan antara yang diajarkan dan yang dilakukan, khususnya fakta bahwa keluarga saya yang katanya pengikut Kristus, namun setiap minggu pagi sebelum pergi ke gereja, selalu terjadi konflik dan ketegangan di dalam rumah. Loh kalau Tuhan itu baik dan kita harus percaya Dia baik, mengapa keluargaku tidak baik?
Di dalam gereja yang seharusnya saya bayangkan akan penuh dengan kasih sayang dan penerimaan, malah sebaliknya penuh kepura-puraan. Pendeta berbicara soal kasih dan pengampunan, kakak-kakak yang katanya pengurus malah sibuk sendiri dengan program mereka, belum lagi percakapan diam-diam dalam kelompok di mana mereka saling menjelekkan orang lain dalam gereja. Saya jadi tambah bingung, di mana kasih sejati bisa saya temukan di sana? Kalau Tuhan memang hadir di sana, mengapa saya tidak merasakannya?
Iman yang dimulai dari cerita dan kekaguman akan berbagai kisah di Alkitab bertentangan dengan realita yang saya hadapi begitu memuakkan. Kekesalan akan Tuhan memuncak ketika saya dipaksa ikut katekisasi hanya sekedar untuk menerima baptisan sidi (di mana pada saat yang sama mama menjabat jadi majelis gereja), padahal saya sendiri sedang dalam tahap meragukan Tuhan. Saya yang anak majelis jadi sasaran pertanyaan sulit pada saat ujian akhir. Saya jawab berdasarkan bacaan, bukan berdasarkan iman saya. Saya benci diri saya sendiri yang tidak punya keberanian untuk menyatakan keraguan saya di hadapan orang lain.
Di tengah kekeringan dan kebingungan, saya dipertemukan sahabat sebangku yang sebenarnya bukan aktivis gereja. Dia dari keluarga non Kristen, tetapi dia mencintai Tuhan Yesus. Dia menceritakan kasih Tuhan dalam hidupnya dan melalui dia saya dimotivasi untuk membaca Alkitab. Lewat kesaksian dan diskusi kami bersama, saya mulai memiliki ketertarikan kembali kepada pribadi Tuhan. Sahabat saya ini banyak pergumulannya, tetapi saya bisa melihat iman dan kesungguhan dia dalam keseharian. Saya pikir kalau ada satu orang yang mirip dengan apa yang saya bayangkan tentang hidup bersama Yesus, maka sangat mungkin kisah Tuhan bukan sekedar fantasi tetapi nyata dalam hidup ini.
Sejak saat itu, saya berusaha untuk belajar, mencari kebenaran lewat banyak bertanya, saya mengalami pergumulan dalam relasi pribadi dengan Tuhan yang seringkali tetap jadi misteri. Namun sedikit demi sedikit saya mulai memahami mengapa Yesus harus mati, bagaimana memahami Tuhan bukan hanya dari sisi kasih semata tanpa melihat pribadi Allah secara menyeluruh, dan bagaimana menerima keberadaan anak-anak Tuhan yang jauh dari sempurna dari yang saya harapkan, ketika saya sadar saya juga belum sempurna.
Sesudah itu, saya masih sering bertemu orang yang berpura-pura, masih memiliki banyak sekali pertanyaan tentang misteri Tuhan, seperti mengapa seakan Allah diam ketika ada orang menderita. Ada banyak kebingungan yang saya alami, tetapi saya memilih sikap sama seperti para murid Yesus di atas. Di tengah ketidak mengertian mereka akan pengajaran Yesus yang rumit, mereka memilih tetap mengikut Yesus, karena hanya Yesus yang memberikan harapan pasti akan kekekalan, bukan yang lain.
Sekarang iman yang saya miliki bukan lagi didasarkan pada apa kata ortu, guru atau pendeta, tetapi dari apa yang Alkitab ajarkan dan apa yang saya lakukan dan alami dalam relasi bersama Tuhan.
Sobatku, mungkin kamu punya pengalaman yang mirip atau bisa juga berbeda. Menjadi anak Tuhan bukan berarti beriman tanpa memahami sama sekali. Beriman bukan ritual ibadah, rutinitas pelayanan, padahal kita tidak mengenal sungguh pribadi Yesus yang kita imani. Kenali Yesus lewat baca Alkitab, berani bertanya pada kakak rohani, berani bergumul, berani jujur mengakui bahwa masih banyak misteri yang tidak kita pahami adalah langkah-langkah kita mulai memiliki iman secara pribadi bukan iman yang didasarkan pada apa kata orang lain.


Sumber : http://www.my-lifespring.com

Tags: , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: