Kelompok Kristiani Segera Tanggapi Bencana di Myanmar

Sebagaimana badai siklon dan bencana alam terburuk sejak tsunami yang melanda Asia Tenggara dan bencana yang terjadi empat tahun belakangan ini, terutama kehancuran dan kerusakan besar yang melanda penduduk Myanmar baru-baru ini, kelompok-kelompok Kristiani segera melakukan tindakan mobilisasi, memikul beban Tuhan untuk siapapun yang memerlukan.

Gospel for Asia (GFA), yang memiliki lebih dari 400 gereja dan lebih dari 200 misi tersebar di seluruh dunia, merupakan salah satu kelompok pertama yang merespon bencana di Myanmar, yang telah menewaskan 40.000 orang atau hilang. Kelompok itu telah mengubah sekolah Alkitab mereka di ibukota Rangoon menjadi tempat perlindungan sementara untuk lebih dari puluhan orang.

Melalui GFA, puluhan warga pedesaan yang kehilangan rumah dan semua barang-barang mereka sekarang telah melihat kasih Tuhan melalui orang-orang yang telah memberikan perawatan berupa makanan, air, dan perlindungan.

“Saya yakin di seluruh Burma (yang juga dikenal sebagai Myanmar), saat jemaat dan misionaris kami pergi untuk menolong orang dan berdoa bagi mereka, hal ini secara pasti membuka pintu bagi orang untuk dapat memahami kasih Kristus,” kata pendiri GFA K.P. Yohannan, menurut Mission Network News.

Secara umum, umat Kristiani di seluruh dunia dengan cepat mendapatkan respon terhadap bencana yang mereka alami, disebutkan tentang pentingnya suatu daerah dan tugasnya untuk memberikan kenyamanan kepada mereka yang memerlukan.

Organisasi kemanusiaan Kristiani seperti Church World Service (CWS), World Vision International (WVI), Operation Blessed International (OBI), and American Baptist International Ministries merupakan sebagiann kecil dari kelompok yang diakui dan dipuji dalam usaha mereka untuk menghimpun dana dan mengirimkan tim untuk memberikan bantuan air bersih, membangun kembali daerah-daerah yang hancur, dan memelihara kontrol terhadap peningkatan situasi yang menyedihkan.

Stuart Windsor, direktur nasional Christian Solidarity Worldwide (CSW), menekankan bahwa situasi alam yang sangat menyedihkan merupakan bukti yang nampak akibat rezim Myanmar yang tertutup dan tidak bersedia menerima bantuan dari pihak luar.

“Badai siklon ini adalah sebuah bencana yang tidak terbayangkan yang menyebabkan makin bertambahnya penderitaan penduduk Birma. Penerimaan militer junta terhadap bantuan dari luar merupakan suatu indikasi betapa buruknya situasi yang ada,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Bagaimanapun juga pada akhirnya, melalui bencana tersebut terbukti kesiapan banyak kelompok Kristiani untuk menanggapi dengan cepat dan efektif bencana, Yohannan menekankan pentingnya doa dan ketergantungan pada Tuhan dalam menghadapi krisis.

“Saat ini adalah waktu bagi kami untuk melakukan segala yang dapat kami lakukan untuk membantu (penduduk Myanmar)…kami berdoa agar Tuhan memberikan kami kekuatan dan hikmat untuk dapat menjangkau para penduduk tersebut, ini adalah hal yang sangat, sangat penting pada saat ini,” katanya.

Badai siklon, yang memporak-porandakan sekitar 11.600 mil persegi Myanmar akhir pekan lalu, merupakan bencana alam terburuk yang terjadi; dimana sebanyak 57 juta orang diperkirakan menjadi korban, ada yang mati, kehilangan tempat tinggal, dan kerusakan terus menyebar luas.

Tags: , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: