Polri: Mahasiswa Serang Polisi dengan Batu dan Molotov

Mahasiswa Unas Ancam Serbu Polres Jaksel Senin

Jakarta, (Analisa)
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, ratusan mahasiswa telah terlebih dahulu menyerang polisi sehingga membuat polisi menangkapi para mahasiswa di depan dan dalam kampus Universitas Nasional (Unas), Jakarta Sabtu (24/5) saat unjuk rasa menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

“Ratusan mahasiswa ini melempari polisi dengan batu, botol dan bom molotov padahal polisi sedang istirahat di depan kampus Unas. Bahkan, ada polisi yang tertidur karena kecapekan,” kata Abubakar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Minggu.

Ia mengatakan, hujan lemparan benda keras dan bom molotov ini membuat polisi berlindung dengan tameng. “Lemparan baru mahasiswa juga mengenai warung-warung di sekitar lokasi kejadian,” kata Abubakar.

Untuk menghentikan serangan itu, maka polisi serempak maju untuk menangkap mahasiswa yang berjumlah ratusan itu sebab tindakan itu sudah bukan bagian aksi unjuk rasa melainkan tindakan anarkis yang harus ditindak secara hukum.

“Sebagian tertangkap di depan kampus sedangkan sebagian kabur ke dalam kampus. Yang ke dalam kampus ya dikejar hingga tertangkap,” katanya.

Aksi serangan mahasiswa kepada polisi itu terjadi pada pukul 04.30 WIB. Malam harinya, Jumat (23/5), sekitar pukul 20.00 WIB, polisi sempat diserang dengan bom molotov namun aksi ini mereda pada pukul 22.00 WIB.

“Antara pukul 22.00 WIB hingga 04.30 WIB, situasi tertib. Mahasiswa masuk ke dalam kampus, polisi di luar. Karena itulah, polisi santai-santai di luar kampus untuk istirahat. Tidak diduga, pagi hari pada pukul 04.30 WIB, polisi diserang ratusan mahasiswa,” katanya.

Abubakar menyatakan, polisi berwenang masuk ke dalam kampus ketika mengejar orang yang terlibat dalam tindak pidana. “Tidak ada hukum dan aturan yang melarang polisi masuk ke dalam kampus ketika mengejar pelaku tindak pidana,” katanya.

Polisi hanya tidak boleh masuk ke dalam kompleks perwakilan negara asing. Tindakan masuk kampus ini berbeda jika ada aksi unjuk rasa atau keramaian dalam kampus.

“Kalau ada unjuk rasa dalam kampus, polisi baru akan masuk kampus jika diminta pihak rektorat. Ini lain dengan di depan Unas di mana polisi mengejar pelaku tindak pidana yang lari ke dalam kampus,” katanya.

Abubakar menyayangkan jika ada pihak-pihak yang menyebutkan bahwa “polisi menyerbu kampus” sebab yang dilakukan adalah menangkap orang berbuat anarkis.

Bantah Isu Penjarahan

Ia membantah bahwa polisi menjarah warung-warung yang ada di depan kampus. “Botol minuman milik warung itu bukan dijarah polisi tapi diambil mahasiswa lalu dipakai untuk melempari polisi,” katanya.

Dalam kasus ini, polisi telah menangkap 166 orang mahasiswa dan warga masyarakat yang ikut aksi unjuk rasa.

Setelah diperiksa, Polres Metro Jakarta Selatan menetapkan 55 mahasiswa sebagai tersangka kasus narkoba sebab mereka kedapatan mengedarkan, menyimpan, memiliki dan memakai ganja.

Dari jumlah itu, 39 mahasiswa tidak ditahan karena hanya memakai ganja namun proses hukum tetap jalan terus. “16 mahasiswa lainnnya ditahan karena melanggar UU No. 22 tahun 1997 tentang narkotika,” katanya.

Selain itu, ada 18 mahasiswa ditahan dengan tuduhan melanggar pasal 160 KUHP tentang menggerakkan orang lain berbuat tindak pidana, 170 KUHP tentang pengeroyokan, pasal 212 KUHP tentang melawan petugas dan pasal 214 KUHP tentang secara bersama melawan petugas hingga luka-luka.

Ancam Serbu Polres

Sementra itu mahasiswa Unas mengancam akan menyerang Mapolres Jakarta Selatan bila rekan-rekan mereka tidak segera dibebaskan. Penyerangan dilakukan Senin.

“Kami minta pada pihak Polres Jaksel hari ini atau maksimal besok, rekan kami harus dibebaskan. Jika tidak, kami akan menyerbu Polres Jaksel dengan membawa kekuatan penuh. Apalagi besok kan waktu kuliah, jadi banyak yang datang,” ujar Rosiana, perwakilan mahasiswa Unas.

Rosi menyatakan hal itu pada wartawan di kampusnya, Jalan Sawo Manila, Pejaten, Jaksel, Minggu. “Kami minta polisi bertanggung jawab. Kami minta agar polisi mengganti kerusakan gedung serta memproses kasus ini secara hukum,” ujar Rosi.

Rosi juga menyesalkan sejumlah rekannya dipaksa dengan keras untuk menandatangani BAP oleh polisi.

Tags: , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: