LSF: 87 Persen Sinetron Merusak Moral Remaja

Medan, (Analisa)

Mayoritas siaran sinema elektronik (sinetron) cenderung berpotensi merusak moral remaja. Secara kuantitas, kecenderungan itu mencapai 86 persen.

Data akhir Januari 2008 yang dibuat Lembaga Sensor Film (LSF) dan Depkominfo, persentase kecendrungan negatif itu justru pada sinetron yang bertemakan remaja. Dari data tersebut, 47 persen di antaranya dinilai negatif karena menampilkan adegan seks bebas di luar nikah, ungkap Anggota LSF Djamalul Abidin Ass pada pertemuan Forum kemitraan LSF dengan unsur Pemda, Mitra Kerja dan masyarakat Provsu di Hotel Danau Toba International Medan, Rabu (28/5).

Dirincikan Djamalul, kecenderungan merusak moral remaja juga dikarenakan adegan ciuman yang mencapai 12 persen, dialog jorok 24 persen, adegan telanjang 2 persen, dan 1 persen akibat tayangan adegan seks menyimpang. Kecuali 86 persen yang dinilai negatif, sisanya yang positif hanya sebatas adegan membantu teman 8 persen, adegan menghormati orangtua 4 persen, dan adegan bersikap sopan 2 persen.

Mencermati kondisi itu, LSF mengimbau agar orangtua bisa melakukan pengawasan terhadap tayangan sinetron yang disaksikan anak-anaknya. “Semua berawal dari keluarga. LSF memang melakukan sensor sebelum film/sinetron ditayangkan. Namun LSF tetap saja kebobolan dengan adegan negatif dalam sinetron,” akunya.

Kekhawatiran lainnya, dengan keberadaan stasiun penyiaran TV saat ini saja, LSF yang hanya beranggotakan 45 orang sudah merasa kewalahan melakukan control. Konon lagi, dalam paruh tahun ini penyelenggaraan penyiaran TV terus akan bertambah.

325 Stasiun

“Hingga akhir Januari lalu, sudah ada 268 permohonan izin baru untuk penyelenggaraan penyiaran TV. Makanya diprediksikan, pada pertengahan tahun ini stasiun TV akan meningkat hingga sekira 235 stasiun,” katanya sembari mengimbuhkan ratusan stasiun itu terdiri 20 TV publik, 239 TV swasta, 47 TV berlangganan, dan 18 stasiun TV komunitas.

Sebelumnya, Gubsu saat membuka acara itu dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Badan Infokom Pemprovsu Drs Eddy Syofian MAP mengatakan, tayangan TV harus mendapat perhatian serius dari LSF dan Komisi penyiaran Indonesia (KPI). Gubsu memuji KPI yang belum lama ini mempublikasikan 10 tayangan TV yang “bermasalah”.

Perkembangan dunia perfilman kini, ungkap Gubsu, khususnya siaran TV menjadi ancaman tersendiri bagi perkembangan moral generasi muda. Disebabkan siaran TV tidak terbatas yang cenderung mengedepankan hiburan tanpa memandang nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.

Kondisi demikian, jika tidak segera disikapi dengan arif akan melahirkan norma-norma baru yang justru bertentangan dengan norma luhur yang dijunjung tinggi sebagai kepribadian bangsa. Makanya, baik LSF maupun KPI harus lebih objektif dan konferehensip dalam melakukan fungsinya.

Gubsu juga menyinggung rendahnya kewenangan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan produksi film lokal. Termasuk rendahnya partisipasi pemerintah dalam pendidikan masyarakat menyangkut pelanggaran bisang perfilman. Padahal, Sumut yang secara geografis memiliki berbagai kelebihan, semestinya memiliki kesempatan lebih dalam memacu industri perfilman dan penyiaran.

Ironi

Eddy Syofian menambahkan, keberadaan lima stasiun TV lokal di Sumut saat ini, juga belum mampu berbuat banyak terhadap kemajuan Sumut. “Inikan ironi, semestinya TV lokal minimal 30 persen siarannya mengangkat isu lokal dan itu belum dilaksanakan.”

Pada forum yang dihadiri sejumlah budayawan, seniman, kalangan pendidik, LSM, pelajar, dan pers itu, Gubsu berharap agar kehadiran LSF dalam pertemuan itu mampu memberikan pendidikan bagi publik seputar perkembangan perfilman, memberikan apresiasi daya saring amsyarakat terhadap tontonan film dan sinetron. Kemudian diharapkan pula, akan melahirkan pedoman produksi film lokal dan video komersial berikut mendorong lahirnya film lokal.

Pembicara lain yang tampil, Pengamat Sosial Budaya H Irham Taufik Umri yang juga Sekdako Tebing Tinggi, Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita Sumut Ny Zakaria Siregar, dan Kasat II Reserse Ekonomi Ditreskrim Poldasu AKBP Dani Kustoni SIK.

Tags: , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: