Pemimpin Agama Kalah Berpacu dengan Globalisasi

Jakarta, (Analisa)

Menteri Agama (Menag) Muhammad Maftuh Basyuni mengakui, pemimpin dan umat beragama kalah cepat berpacu dengan arus globalisasi, di samping meluasnya penganut sekulerisme.

Akibatnya, peran agama menjadi merosot, kata Menag pada seminar “Peta Jalan Mewujudkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusian yang Adil dan Beradab,” di Jakarta, Rabu (28/5).

Bagi penganut sekulerisme, kata Menag, agama adalah urusan individu, terpisah dari kehidupan masyarakat dan bangsa, addiinu lillah (agama urusan seseorang ecara vertical dengan Tuhan, sementara Al Waton liljamaah (bangsa adalah urusan masyarakat).

Pandangan seperti ini menempatkan agama pada posisi marginal sehingga nilai-nilai etik, moral dan spritual agama kurang mampu memecahkan persoalan bersama, baik dalam konteks lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya, katanya.

Keprihatinan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara seperti itu, kata Menag, menggejala secara umum dan mencakup lapisan masyarakat yang sangat luas. “Keprihatinan itu ditandai dengan lemahnya komitmen kepada norma-norma etika dan moral sosial dalam kehidupan public,” ucap Menag.

Menag berpendapat, pada gilirannya sikap tersebut dapat mendorong tindakan antisosial, seperti nafsu melanggar hukum, vandalisme sebagai nafsu merusak tanpa alasan yang jelas dan pelarian kepada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan dan pertikaian.

“Tidak heran, jika seiring dengan itu muncul praktik-praktik tidak terpuji dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” tegasnya.

Menag Maftuh menegaskan, pada situasi seperti ini diperlukan adanya peneguhan kembali komitmen nasional terhadap moral bangsa. Dan salah satu upaya yang tepat untuk itu adalah penempatan kembali secara terhormat Pancasila sebagai acuan hidup bersama, khususnya yang berlandaskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Komitmen yang harus dilakukan, kata Menag, adalah memperbaiki kualitas keberagamaan keluarga dan masyarakat secara berimbang, antara kesalehan individu dengan kesalehan sosial. Memperbaiki ukhuwah atau persaudaraan antara sesama kelompok dan anggota masyarakat.

Selain itu, perlu memperbaiki aspek kepemimpinan agama dan masyarakat.” Pemimpin agama dituntut memiliki ‘good character’ dan dapat menjadi teladan yang baik,” kata Menag.

Kesungguhan mengamalkan Pancasila secara baik, kata Menag, menjadi modal yang kuat bagi bangsa Indonesia dalam menjawab tantangan nasional maupun global yang berlangsung dewasa ini.

Tags:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: