KARYA AGUNG DI BALIK LAYAR

KARYA AGUNG DI BALIK LAYAR

(Markus 2 : 1-12)oleh Saumiman Saud *)

Anda mungkin mulai menebak apa yang akan dibicarakan mengenai “Karya di balik layar” ini? Orang yang berada di balik layar sesungguhnya tidak popular atau terkenal, sebab mereka jarang bahkan tidak pernah terlihat di tempat umum. Namun bukan berarti mereka tidak penting, justru yang tidak kelihatan itu sangat berperan dan penting. Sebuah mobil mewah tidak ada arti apa-apanya bila mesin yang tidak kelihatan itu rusak dan mogok. Markus 2 : 1-12 mengisahkan bahwa Yesus telah mengakhiri perjalanan dari Sinagoge menuju ke Kapernaum. Berita bahwa Yesus hendak kembali ke rumah ini rupanya tersebar ke seluruh kota ( 1 : 29, dalam hal ini yang maksud adalah rumah Simon dan Andreas). Dengan demikian orang berduyun-duyun datang ke rumah itu – mereka begitu haus untuk mendengar berita kabar baik yang hendak diajarkan Tuhan Yesus.

Di antara sekian banyak orang yang penuh antusias hendak melihat Yesus itu rupanya ada empat orang yang sedang membawa teman mereka yang lumpuh. Tatkala mereka tiba di rumah itu penuh sesak, tidak ada jalan masuk, maka mereka sepakat dan berinisiatif naik ke atas rumah dan membuka atapnya, dengan demikian teman mereka dapat diturunkan.

Apa keistimewaan dari ke empat orang itu? Ada empat karakteristik positip yang kita temukan dari mereka. Coba kita lihat satu persatu, a.l : 1. Adanya kepedulian terhadap sesama 2. Adanya semangat dan kerja-sama 3. Adanya keyakinan dan tekad yang sama 4. Adanya prioritas yang sama.

1. Adanya kepedulian terhadap sesama

Tidak egois adalah karakteristik dari ke empat orang itu. Membawa teman yang sakit lumpuh kepada Tuhan Yesus dengan menerobos kerumunan orang banyak dan menurunkannya melalui atas atap itu berarti adanya penyangkalan diri, karena secara otomatis mereka kehilangan kesempatan menerima berkat Tuhan. Hal ini sama seperti orang yang merelakan bangku di bus yang ditempatinya untuk orang lain. Bersedia untuk hidup tidak nyaman, kondisi ini tidak banyak orang sanggup melakukannya. Kepedulian akan sesama terasa sangat indah tatkala seseorang tidak memperhitungkan pengorbannan yang telah dilakukannya. Namun sebaliknya apabila seseorang memperhitungkan pengorbanan yang dilakukannya karena ia pernah menolong seseorang, maka berkatnya akan hilang begitu saja; demikian juga keindahannyapun tidak ada. Apa artinya bila anda pernah menolong seseorang, namun engkau menggembar-gemborkannya pada orang lain. Itu sama dengan ada orang kaya yang mengangap dirinya dermawan, lalu tatkala ia memberikan sumbangan dengan sengaja membayar para wartawan supaya namanya tercantum besar-besar di Surat Kabar dan terkenal.

Jika kita hubungkan dengan konteks gereja, contohnya cukup sederhana, ibarat seorang guru Sekolah Minggu atau Pelatih Koor yang terlanjur ngomong pada murid-muridnya “ Hai anak-anak, apakah kalian tidak tahu bahwa saya tidak digaji sesenpun untuk mengajar kalian? Saya ini seorang dosen,lulusan Amerika, jika saya mengajar di kampus atau tempat sekuler maka saya akan mendapat honor sekian ratus dolar?” Apabila kalimat ini benar-benar terucapkan, tentu berkatnya akan mengalir ke orang lain. Pelayanannya telah mendatangkan rasa sungut, bukan suka-cita. Salah satu modal yang terlihat dari ke empat orang itu adalah mereka memiliki rasa kepedulian pada sesama. Seacara pasti adalah, apa yang dikerjakan mereka tidak dengan bersungut-sungut dan hitung-hitugan (pamrih).

2. Adanya semangat dan kerja-sama

Di dalam sebuah team kerja, semangat saja tidak cukup tanpa dibarengi kerja-sama yang baik. Oleh sebab itu ke empat itu orang harus memiliki rasa belas kasihan dan rasa kepeduliaan yang sama. Terus terang saja, tidak gampang ditemukan dalam kondisi yang buntu, namun semangat dan kerja sama tetap berkobar. Kesuksesan di sini tidak akan tercapai bila hanya satu atau dua orang yang memegang tandu, sementara yang lain berpangku tangan. Kesuksesan itu juga tidak akan tercapai bila ke empat orang itu tidak memiliki kerja-sama, sebab bila ada salah seorang saja bersikeras hendak menuju ke arah kanan, sementara yang lainnya menuju ke kiri, tentu akan terjadi kekacauan. Semangat dan kerja-sama menciptakan suatu keharmonisan dari team ini untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Kebenaran di atas sungguh nyata bila kita bandingkan dengan Keluaran 17:11 “Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek”. Saat itu Musa memerintahkan Yosua melawan orang Amalek. Tatkala Musa mengangkat tangan, maka orana-orang Israel menjadi kuat, namun jika tangan Musa diturunkan, maka orang Amalek akan lebih kuat. Ayat 12 mencatat, suatu saat tangan Musa itu penat, maka Harun dan Hur bekerja sama menopang tangannya; jadi dalam hal ini diperlukan semangat dan kerja-sama sehingga tercipta kesatuan yang makin kuat dan bersemangat.

Jaman sekarang bukan lagi saatnya kita berperan jalan sendiri (one man show) , sudah waktunya orang-orang lain dilibatkan dan mendukung. Pelayanan di gereja juga akan berhasil jika setiap anggota jemaat satu dengan yang lain saling bekerja sama dan saling mendukung. Kita berkumpul bersama-sama itu merupakan suatu permulaan, namun tahap selanjutnya kita perlu kerja-sama, barulah tercipta apa yang disebut dengan kemenangan itu. Sekuat dan sesemangat apapun seseorang termasuk pendetanya, namun bila tidak didukung oleh orang lain, maka suatu saat pasti akan rubuh. Seperti ijuk sapu lidi, jika hanya satu ijuk maka gampang sekali kita patahkan, seperti menghancurkan kerupuk, namun bila ijuk-ijuk itu berkumpul menjadi satu sapu lidi, maka tidak gampang lagi dipatahkan.

3. Adanya keyakinan dan tekad yang sama.

Keyakinan bahwa hanya Yesus dapat mengurus teman mereka ini diperlukan adanya kepercayaan dan tekad yang bulat. Ke empat orang itu bisa saja putus asa, apalagi ketika menghadapi jalan buntu karena kerumunan orang di rumah itu yang menghalangi jalan masuk.

Seorang mantan juara tinju James J Carbett dari San Francisco ketika ditanya tentang apa rahasianya untuk menang dalam kejuaran tinju, maka ia menjawab “Bertarunglah satu ronde lagi”. Lalu ia menambahkan bahwa saat kita lelah dan terasa tidak kuat lagi, kembalilah “Bertarunglah satu ronde lagi”. Tekad bulat seperti ini akan membawa kita kepada pesta kemenangan.

Bagaimana dengan kita? Keyakinan haruslah dibarengi dengan tekad, apalagi di dalam team yang memerlukan kerja sama, maka tekadnya juga harus sama. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa di dalam sebuah team, kekutaannya justru terletak pada sosok pribadi yang paling lemah. Bila ada rekan kita yang lemah, kita bukan menajuhi dan menjatuhkannya, tetapi justru kita patut dan harus membawanya bangkit kembali.

4. Adanya prioritas yang tegas dan sama

Jalan buntu, namun tidak menutup kemungkinan untuk ke empat orang ini berputus asa. Satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh adalah naik ke atas atap. Tradisi mencatat bahwa bentuk rumah orang Palestina pada waktu itu memungkinkan orang untuk naik ke atas atapnya,. Karena biasanya ada semacam lubang untuk sinar masuk ke dalam rumah. Resiko yang diambil oleh ke empat orang ini cukup besar, namun bagi mereka tentu lebih berharga sebuah nyawa teman yang lumpuh ini. Itu sebabnya mereka lebih memprioritaskan kesembuhan temannya, ketimbang rasa malu, dan juga kemungkinan merusak rumah orang lain.

Anak-anak Tuhan kadang salah menempatkan prioritas di dalam hidupnya. Ada kalanya hobby lebih diprioritaskan ketimbang pekerjaan Tuhan. Tidak jarang kita mendengar gara-gara pertandingan tinju , sepak bola, memancing atau sinetron; seseorang rela tidak ke gereja pada hari minggu. Karya di balik layar ke empat orang ini telah menghasilkan buah yang luar biasa, temannya yang lumpuh itu sembuh. Kesembuhan itu merupakan prioritas, ia lebih berarti dari segala pengorbanan yang pernah mereka lakukan.

Apa yang bisa kita pelajari hari ini? Keberhasilan seseorang tidak terletak pada pribadi orang itu saja, biasanya juga ikut serta mereka yang telah mengambil bagian berkorban banyak di balik layar. Memang tidak semua orang yang dibalik layar itu memiliki sikap yang baik (positip), ada orang-orang tertentu justru sengaja bertopang tangan dan membuat kerusuhan, kekacauan dengan segala gossip dan bumbunya. Orang seperti ini adalah orang yang paling jahat dan tidak bertangung jawab di dunia.

Hari ini mungkin nama anda tidak popular? Orang-orang tidak mengenal nama dan wajah anda. Orang-orang juga tidak pernah memuji anda. Karena anda adalah orang yang bekerja di balik layar, tidak dilihat orang. Padahal anda biasanya ke gereja lebih awal dan pulangnya paling akhir, karena harus mempersiapkan acara dan menata kembali barang-barang yang dipkai. Pelayanan anda mungkin hanya di dapur, bagian kebersihan, perlengkapan atau bagian dekorasi, yang semuanya tidak dilihat orang. Beda dengan mereka yang berjabatan pengurus, ketua, bendahara atau seksi acara. Namun perlu diingat, tanpa orang-orang yang dibalik layar seperti anda ini, semua keberhasilan itu tidak akan ada. Oleh sebab itu jangan sekali-kali menganggap diri anda remeh, dan jangan sekali-kali meremehkan mereka yang kurang popular ini. Mari, jangan berhenti berkarya yang mulia dan agung di balik layar ini. AMIN

Lynnwood, Medio Mei 27

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: