UPACARA KEMATIAN ORANG TIONGHOA TRADISI

UPACARA KEMATIAN ORANG TIONGHOA TRADISI

(Suatu tinjauan singkat melalui perspektif Alkitab oleh Saumiman Saud *)

Kematian adalah bagian dari setiap orang dan makluk ciptaan Tuhan, yang tidak mungkin dihindari. Ia begitu menyengat nyawa, tidak memandang ras, ekonomi, usia, jabatan, dan Agama. Alkitab secara “konsisten” mengaitkan kematian itu dengan dosa atau maut. (bnd Kej. 2:17; Maz 90:7-11; Rm 5:12; 6:23; 1 Kor 15:21 dan Yak 1:1-5).

Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja (Ibr 9:27), walaupun sering kita mendengar orang mengatakan ada yang mati dan hidup lagi, biasanya itu yang disebut dengan mati suri. Sebenarnya kematian itu tidak sesuai dengan kodrat manusia, hal ini disebabkan oleh pemberontakkannya kepada Allah. Bruce Milne,[1] menambahkan bahwa ini merupakan salah satu bentuk hukuman ilahi. Namun menurut firman Tuhan , walaupun kematian itu tak terelakkan, bukan merupakan akhir dari segala sesuatu. Itu sebabnya pada masa manusia itu diberi kesempatan untuk hidup, haruslah mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Reaksi manusia terhadap kematian itu bermacam-macam, tergantung siapa yang mati. Jikalau yang mati adalah kerabat dekat , dikenal atau dikasihi maka ada rasa kehilangan dan kesedihan yang sangat mendalam sekali. Sebaliknya terhadap orang yang tidak dikenal, reaksinyapun biasa-biasa saja. Selain itu tergantung juga bagaimana matinya; karena sakit, kecelakaan dan setelah itu reaksinya paling hanya terenyuh terharu.[2]

Kematian bagi kalangan Tionghoa dalam hal ini orang Tionghoa tradisi[3] masih sangat tabu untuk dibicarakan, sebab mereka percaya bahwa kematian merupakan sumber “malapetaka” atau “sial”. Itulah sebabnya perlu ditangani dengan ritual keagamaan yang benar sehingga kelak mereka tidak diganggu oleh roh yang meninggal itu.

Konsep kematian menurut firman Tuhan jelas berbeda dengan konsep orang Tionghoa tradisi ini, untuk memahaminya kita harus melihat sekilas latar belakang kehidupan mereka, dimulai dari kelompok masyarakat terkecil yakni keluarga. Ada beberapa bagian yang saya rasa sangat perlu kita pelajari sehubungan dengan masalah kematian ini.

a. Hubungan Anak dan Orangtua
Tradisi Tionghoa sangat menuntut agar anak-anaknya senantiasa menghormati orangtua. Tradisi ini sebenarnya wajar dilakukan jikalau orangtua yang dimaksud masih hidup. Yang menjadi tidak wajar adalah tatkala orang tersebut sudah matipun harus dihormati dan diangap sekan-akan masih hidup. Parrinder menjelaskan bahwa,[4] yang dimaksud dengan menghormati orangtua yang sudah mati adalah dengan cara menjalankan kewajiban memberikan mereka korban dan makanan. Atau ada juga yang mengirimkan mereka rumah, pakaian, uang, mobil, computer (laptop) dan sebaginya.

Penghormatan terhadap orangtua disebut Hao (Hshiao)[5] yang bagi mereka harus disertai sikap hormat pada orang-orang yang lebih tua sebagai pernyataan kasih. Sikap hormat ini berlangsung setiap hari kepada mereka yang masih hidup dan setelah meninggal dilakukan dengan cara yang berbeda. Oleh sebab itu seorang anak sangat dipentingkan oleh keluarga orang Tionghoa, terutama anak laki-laki. Bagi mereka anak bukan hanya untuk melanjutkan marga (She) dan membawa berkat (Hokky) [6], tetapi yang terutama untuk mengganti sang ayah merawat abu leluhur.

Menurut Nio Joe Lan,[7] ada dua macam pendapat tentang pemujaan terhadap arwah leluhur :

Arwah manusia itu hidup terus, dengan memujanya maka diharapkan arwah leluhur itu akan melindungi keturunannya dari malapetaka.
Pemujaan terhadap arwah leluhur semata-mata hanya merupakan peringatan terhadap leluhur, yakni mereka yang telah memberi hidup pada generasi masa kini. Jadi dengan kata lain, memelihara “meja abu” tersebut hanya untuk mengenang orangtua yang sudah meninggal.

Seorang anak laki-laki yang tidak mengurus “abu leluhur”, disebut Put Hao (tidak berbakti), bahkan yang lebih dahsyat lagi keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki juga digolongkan sebagai Put Hao. Itu sebabnya ada kelurga yang terpaksa mengadopsi anak laki guna memenuhi syarat ini, bahkan yang lebih celaka konsep ortodox mereka, seorang suami diijinkan menikah lagi demi untuk mendapat anak laki-laki.

b. Konsep Kematian bagi orang Tionghoa

Sampai saat ini orang Tionghoa masih menganggap kematian ini merupakan suatu hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi pada saat seseorang yang lagi merencanakan menikah atau melahirkan anak. Bagi orang Tionghoa, seseorang yang sudah meninggal secara otomatis statusnya berubah menjadi dewa, bahkan umurnya boleh ditambah tiga tahun (satu tahun untuk Bumi, satu tahun untuk udara dan satu tahun untuk laut), oleh sebab itu orang tersebut harus disembah terutama oleh mereka yang lebih muda, termasuk anak cucu.

Penyembahan dilakukan di kubur, selain itu dapat juga dilakukan di rumah dengan cara memanggil roh arwah tersebut di depan altar ( Hio Lo)-nya. Biasanya Hio Lo ini dipasang di rumah putra sulung, kecuali atas persetujuan keluarga maka boleh ditempatkan di rumah anak yang lain. Jaman ini tersedia fasilitas khusus untuk meletakkan abu leluhur, dan ada orang-orang volunteer yang bersedia mengurusnya. Untuk mengetahui apakah roh yang dipanggil itu sudah hadir atau belum maka diadakan Puak Poi yakni dengan melemparkan dua keping uang logam. Apabila jatuhnya berlainan sisi sebanyak tiga kali berturut-turut, itu berarti roh arwah yang dipanggil sudah hadir.

Menurut kepercayaan mereka, orang yang mati secara tragis misalnya, tabrakan,bunuh diri, dan dibunuh, rohnya akan gentayangan; karena belum tiba saatnya dipanggil masuk dunia orang mati. Nama mereka belum tercantum di dalam kerajaan maut (Im Kan) yang dikuasai raja Giam Lo (Ong = raja). Roh gentayangan inilah yang biasanya disembah mereka pada hai Cui Ko, yakni bulan ke tujuh tanggal lima belas.

c. Tempat Persemayaman

Pada jaman dulu, mengurus jenazah orang mati selalu menjadi tugas keluarga. Saat itu banyak orang yang matinya di rumah bukan di rumah sakit. Anggota keluarga memandikan dan menyiapkan tubuh itu sebelum dimakamkan, tukang kayu setempat membuat peti mati, pesuruh gereja menggali lubang; sedangkan upacara diadakan di gereja atau di rumah. Dengan dihadiri sanak famili dan kerabat-kerabat, tubuh (Jenazah) dibaringkan dipekuburan milik gereja atau halaman rumah.[8]

Menurut tradisi Tionghoa, jikalau seseorang meninggal, maka mayatnya harus disemayamkan bebrapa hari sambil mengadakan upacara-upacara sembahyang dan pada malam hari mayatnya harus tetap dijaga, sebab menurut kepercayaan mereka apabila mayat tersebut dilangkahi kucing maka mayat itu bisa bangkit berdiri. Pada saat inilah sanak keluarga mengadakan penyembahan kepada roh orang yang meninggal sebagai suatu penghormatan (Hao).

Tempat persemayaman jenazah biasanya dilakukan di rumah, namaun sekarang orang lebih senang memakai rumah sosial, di Surabaya misalnya Yayasan Sosial Adi Jasa dan sebagainya. Sebenarnya bagi orang Tionghoa tradisi, menyemayamkan orang mati di rumah sendiri itu lebih baik, hal ini jugga untuk menunjukkan Hao mereka, namun karena pada masa sekarang karena masalah keamanan, rumah yang tidak memadai, parkir, membuat orang-orang memakai rumah sosial.

d. Perlengkapan-perlengkapan dalam Perkabungan

1. Pakaian
– Pakaian orang mati

Pakaian ini mulai disediakan tatkala seseorang anggota keluarga itu lanjut usia. Biasanya karena penyakit ketuaan yang diderita bertahun-tahun, sehingga si sakit meminta anak cucunya untuk menyediakan pakaian itu baginya. Untuk membeli pakaian ini, harus memeilih hari dan bulan baik[9] yang dibaca melalui buku Thong Su (semacam ensiklopedi Tioinghoa). Nama pakaian itu Sui I (Baju panjang umur). Mernurut Martin C. Yang,[10] pakaian tersebut dapat segera dikenakan pada si sakit apabila diperkirakan orang itu sudah hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir.

– Pakaian Berkabung

Orang yang berkabung (istilahnya Hao Lam) mengenakan pakaian serba putih, topi putih yang terbuat dari kain blacu. Mereka yang lebih kental tradisinya lagi memakai pakaian serba hiam. Selain itu juga dipasang Ha di lengan baju kiri tanda berkabung.[11] Tujuan mereka memakai pakaian berkabung adalah untuk meringankan penderitaan orang yanag meninggal, semakin kental tradisi itu dijalankan maka semakin ringan penderitaannya. Sedangkan dampaknya bagi yang berkabung, mereka akan mendapat pengaruh baik atau Hokky , semakin lama masa berkabung, maka semakin banyak pengaruh baiknya.

-Peti Mati

Peti mati yang dipakai orang Tionghoa tradisi kelihatannya menyeramkan, sebab selain ukurannya besar, berat ditambah lagi banyak ukir-ukiran kuno. Merupakan kebanggan tersendiri, apabila sanak keluarga mampu membeli sendiri peti mati, sebab ada kepercayaan mereka siapa yang yang membeli, dialah yang akan mendapat banyak rezeki.[12] Bagi mereka peti mati merupakan sarana untuk menghantar orang mati ke dalam kuburnya, oleh sebab itu semua barang-barang kesayangan almarhum supaya dimasukkan juga ke dalamnya. Pembelian peti mati yang mahal juga merupakan salah satu bukti Hao nya anak-anak, dan ada kebiasaan peti tersebut tidak boleh ditawar harganya.

– Tempat Dupa

Tempat dupa (Hio Lo), merupakan sebuah bokor kecil yang fungsinya sebagai tancapan dupa. Benda ini mempunyai dua buah kuping, sedangakan pada bagian depannya terukir sebuah kata Hi (bahagia). Lazimnya Hio Lo itu terbuat dari timah, namun sekarang ini tidak jarang kita lihat Hio Lo yang terbuat dari tanah liat. Hio Lo itu diisi abu dapur yang kemudian dipercayai sebagai abu leluhur dan harus dipelihara sampai generasi turun-temurun. Dupa (Hio) merupakan alat sembahyang yang dibakar dan mengeluarkan bau-bau harum. Makna yang terkandung dalam pembakaran dupa ialah menemukan jalan suci. Dalam konteks kematian seperti ini Hio menyatakan bahwa yang bersangkutan hadir dalam acara perkabungan. Melalui Hio ini akan terjalin komunikasi antara hidup dan yang mati.

– Lilin

Lilin merupakan tanda duka-cita, tetapi juga merupakan tanda bahwa para pelayat tidak membawa sial. Menurut kepercayaan mereka tetesan air lilin ini tidak boleh kena tubuh kita, karena akan membawa sial seumur hidup.

– Foto Almarhum
Foto Almarhum diletakkan di depan peti mati yang kemudian setelah pemakaman dibawa pulang oleh putra sulung untuk di sembah. Foto juga dipakai sebagai iklan di Surat Kabar, supaya sanak famili, handai-taulan mengetahui beliau ini sudah meninggal. Sering terjadi percekcokkan hanya karena nama seseorang famili lupa dicantumkan, oleh sebab itu memerlukan ketelitian.

e.Tata Cara Pemakaman

Tata-cara Pemakaman orang Tionghoa sebenarnya dengan mengubur, [13]sedangkan kremasi dikenal oleh kalangan yang beragama Hindu. Namun pada saat ini akibat memudarnya budaya (detradisionalisasi), kremasi ternyata bukan cara yang asing lagi bagi orang Tionghoa.

Tata-caranya secara umum sebagai berikut :

– Sembahyang Tutup Peti

Selama persemayaman, jenazah tersebut sudah mulai disembah dengan dipimpin oleh padri (Sai Kong) atau Bikhu/Bikhuni. Sanak keluarga dikumpulkan dengan mengenakan pakaian berkabung, mereka diminta untuk membakar dupa, berlutut dan mengelilingi peti mati berulang-ulang sebagai tanda hormat. Anak sulung (laki-laki) memegang “Tong Huan”[14] sebagai alat sembahyang selama ritual itu.

Setelah ditetapkan hari dan jamnya, maka jenazah tersebut segera dimasukkan ke dalam peti sambil diisi barang-barang kesukaan almarhum dan kemudian dipenuhkan dengan uang kertas sembahyang. Sesudah jenazah dimasukkkan ke dalam peti, maka diadakan sembahyang “memaku peti jenazah” . Pada saat itu padri mengucapkan kalimat “It thiam teng, po pi kia sai” artinya paku pertama diberkatilah anak menantu”, dengan demikian seterusnya sampai paku ke empat. Setelah itu diadakan doa dengan harapan agar meringankan dosa yang diperbuat oleh orang yang meninggal itu. Selain itu bagi mereka, cara menggeser peti mati itu juga ada syaratnya, tidak boleh menyentuh kosen pintu rumah, sebab menurut kepercayaan mereka roh almarhum itu akan tinggal di tempat yang tersenggol dan itu akan mengganggu aktivitas hidup sehari-hari.

– Perjalanan ke tempat pemakaman

Pemberangkatan jenazah ke tempat pemakaman dimulai dengan sembahyang. Kali ini semua sanak famili mempersembahkan korban berupa daging, buah-buahan atau kue-kue, yang setelah selesai acaranya boleh dibawa pulang untuk dimakan bersama, supaya mendapat berkat dan rezeki. Pada saat yang sama menantu laki mengadakan ritualnya dengan mempersembahakan “Leng Ceng”[15]

Bagi mereka yang masih memegang ketat tradisi, untuk menunjukkan rasa cinta anak pada orang tua, maka mereka diharuskan telanjang kaki berjalan samapi persimpangan jalan barulah boleh masuk ke mobil jenazah yang mengantar sampai ke kubur. Namun belakangan ini tradisi seperti ini jarang dilakukan, sebab selain udara yang panas juga mengganggu lalu-lintas jalan.

Selain itu juga diadakan pemecahan guci, semangka dan sebagainya, semua ini tujuannya supaya mendapatkan berkat.

– Sembahyang di kubur

Ritual penyembahan di kubur (kremasi) dilakukan dengan cara membakar dupa, berlutut, mengelilingi peti jenazah yang dipimpin kembali oleh padri. Setelah selesai sembahyang, maka dilakukan secara teratur tabur bunga yang dimulai oleh sanak keluarga dan famili yang diikuti oleh pelayat. Pada saat ini juga, famili, cucu luar mengambil kesempatan membuang (Ha), dengan demikian mereka sudah boleh memakai pakaian bebas.

Di kubur juga ada ritual lain seperti pelepasan burung merpati, lalu ada yang meguburkan boneka di samping kuburan tersebut, dengan tujuan supaya adayang menemani arwah itu, dan tujuan lain supaya arwah tersebut tidak mengajak pasangannya yang masih hidup.

– Perjalan pulang ke rumah

Perjalanan pulang dari tempat pemakaman (kremasi), dilakukan setelah semua upacaranya selesai. Pihak berkabung membagi-bagikan Ang Pao kepada para pelayat sebagai tanda ucapan terima klasih. Sementara itu anak sulung membawa Hio Lo sambil dupanya tetap dinyalahkan dan anak yang lain memegang foto almarhum.

Dalam sepanjang perjalanan itu, anak-anak almarhum harus memberi komandao, misalnya tatkala meliwati jembatan. Komando ini diucapkanm serentak kepada roh yang mereka bawa melalui Hio Lo, supaya roh tersebut tidak tersesat pulang ke rumah. Hio Lo inilah yang kemudian diletakkan di rumah anak sulung supaya disembah oleh semua sanak keluarga.

Para pelayat yang yang sudah tiba di rumah duka atau rumah almarhum, biasanya disediakan air bunga untuk cuci wajah[16] dan disediakan makanan ala kadarnya.

f. Masa Perkabungan

1. Sanak Keluarga

Seperti sudah dijelaskan di atas, lamanya berkabung sehubungan suatu kematian tergantung pada hasil musyawarah seluruh anggota berduka (Hao Lam). Jaman dulu, lamanya berkabung selama tiga tahun, namun karena faktor situasi dan kondisi, maka saat ini tradisi tersebut agak ditoleransikan menjadi satu tahun, bahkan ada yang hanya satu minggu ( tujuh hari).

Memang terdapat banyak kesulitan tatakala mereka menjalani masa duka yang cukup panjang ini, misalnya:

– Dalam bisnis, ada orang Tionghoa yanga merasa pantang mengunjungi/dikunjungi oleh orang-orang yang mengenakan pakaian dengan tanda kabung.

– Orang yang berkabung tidak boleh mengenakan pakaian yang berwarna-warni, hal ini tentu menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka yang sedang berkabung

– Selama berkabung, anak cucunya tidak diperbolehkan menikah, kalaupun sudah terlanjur direncanakan, maka acara nikah dilakukan dengan berbagai persyaratan, biasanya akan berlangsung sederhana.

2. Famili

Tidak semua famili dituntut untuk ikut berkabung, biasanya mereka akan membuang semua tanda kabung mereka di kubur pada hari itu juga.

g. Tabu terhadap berbagai perayaan

Dalam masa berkabung, ada beberapa perayaan penting orang Tionghoa yang sangat tabu (tidak boleh) diselenggarakan. Masing-masing perayaan serta alasan tabunya dapat dijelaskan secara singkat di bawah ini.

– Hari Raya Imlek

Hari Raya ini tidak boleh dirayakan oleh oranag yang sedang ditimpa kemalangan (berduka).

– Perayaan Peh Chun

Perayaan Peh Chun (sembahyang Kue Cang) juga tidak boleh dirayakan oleh mereka yang berduka, menurut kepercayaan mereka tatakala membungkus dan mengikat tali Kue Cang, akan turut terikat kaki arwah itu.

– Perayaan Tang Cek

Perayaan Tang Cek adalah sembahyang dengan mempersembahkan kue ronde. Alasan tabu terhadap perayaan ini adalah tatakala membuat kue ronde tersebut, mata arwah itu akan tertekan.

h. Penyeleggaraan Kong Tiek[17]

Kong Tiek diadakan sesuai dengan keuangan yang ada, itu sebabnya ada beberapa keluarga yang harus menunggu rejeki terlebih dahulu. Kong Tiek terdiri dari seperangkat barang-barang dari bambu, berupa , rumah,mobil, TV dan sebagainya. Dengan dipimpin oleh seorang padri, barang-barang tersebut diantar ke alam baka, dengan tujuan agar arwah itu dapat memakainya di sana.

i. Tjeng Beng

Tanggal perayaan Tjeng Beng menurut lunar kalender Tionghoa biasanya jatuh pada awal bulan ke tiga. Menurut penanggalan masehi sekitar tangal 5 atau 6 April. Pada hari itu[18] orang Tionghoa tradis berziarah ke malam leluhur dengan membawa dupa (hio), lilin, kertas sembahyang dan sajian. Tjeng Beng juga tabu Chiong terhadap shio tertentu, jadai tidak semua orang diperkenankan mengunjungi kuburan setiap tahunnya.

Pada dasarnya melalui uraian ini dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa kematian bagi orang Tionghoa tradisi merupakan sesuatu yang tabu, mengerikan dan penuh misteri. Mereka percaya ada kehidupan setelah kematian, namun sayang semuanya penuh ketidak-berdayaan dan penderitaan, sehingga orang-orang yang meninggal justru memerlukan pertolongan dari sanak keluarga, misalnya dalam memenuhi kebutuhan makanan,pakaian, rumah serta uang. Herannya dalam ritual yang lain, sanak keluarga menganggap bahwa orang yang mati itu sudah menjadi dewa, sehingga mereka datang kepada arwah tersebut untuk mohon berkat (rejeki).

Kekristenan mengajarkantentang kehidupan orang percaya sesudah kematian, firman Tuhan menyatakan sebagai “kebangkitan tubuh” (Lih 1 Kor 15:35-58), yang sesungguhnya mencerminkan kesaksianAlkitab tentang kesatuan hakiki manusia. Kematian bukan lagi suatu hal yang menakutkan dan tabu, tetapi suatu keuntungan karena langsung dapat bersekutu dengan Allah (Flp 1:21). Oleh sebab itu bagi orang percaya, di dalam Tuhan Yesus ada kepastian, yakni hidup kekal bersama Tuhan Yesus.

Dalam Alkitab, Allah juga memerintahkan kita menghormati orang tua. Bagi saya menghormati orang tua adalah semasa ia masih hidup, kita mengasihi dia, merawatnya dan sebagainya. Walaupun kita boleh saja mengenang segala kebaikannya, namun caranya harus jelas, tidak bertentangan dengan iman kerohanian kita. Jadi bagi kita, ada hal-hal yang sebenarnya boleh diteladani dari orang Tionghoa tradisi sejauh tidak merupakan ibadah. Sebaiknya kalau pihak keluarga sudah menyerahkan tata-cara ke pihak gereja, biarlah semua itu diatur oleh pihak gereja, janganlah dicampur-aduk tata-caranya dan hal ini perlu dipahami betul oleh keluarga.

Dipihak lain lagi saya sangat kagum terhadap tradisi Tionghoa yang menekankan Hao dalam dalam setiap hidup keluarga mereka, yakni bagaimana kita menghargai yang lebih tua dan sekaligus menghormatinya, hal yang baik seperti ini rasanya perlu ditularkan kepada orang-orang modern masa kini. Tidak jarang kita melihat orang-orang modern saat ini bersikap “tidak wajar” terhadap yang lebih tua, bukan karena mereka kurang pendidikan, tetapi mungkin karena begitu lunturnya tradisi. Sering saya menemukan ornag-orang muda menitipkan orangtuanya di panti jompo tanpa memperdulikannya sama sekali, asalakan uangnya ditransfer ke sana sudah beres. Ingat saja, suatu hari kita akan mendapat giliran menjadi ornag tua. Anak-anak kita tidak buta melihat perbuatan kita yang semena-mena, justru ia bakal meneladani kita. Pada waktu itulah, menyesal sepertinya sudah terlambat.

Biarlah kita sebagai orang percaya mencoba untuk menerapkan hal yang berguna dari orang Tionghoa tradisi ini, dengan tidak mengesampingkan prinsip-prinsip Alkitab. Siapapun anda, hormatilah orang tua anda selagi kesempatannya masih ada, jika telah terlambat maka tiada artinya lagi. SEMOGA

*) Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, saat ini berdomisili di Washington.Tulisan ini sebagai dedikasi beliau bagi Ibu yang dikasihinya Tan Li Ly, Sabtu 12 April 2008 yang lalu telah dipanggil Tuhan.

——————————————————————————–
Referensi :
[1] Bruce Milne, Knowing The Truth: A Hand Book Of Christian Belief, (England: Inter-Varsity Press, 1982) 267

[2] Billy Graham, Facing Death And The Life After (Waco, Texas: Word Publishing, 1987) 15-16

[3] Saya menerjemahkan Orang Tionghoa yang belum percaya dengan Orang Tionghoa Tradisi

[4] Parrinder, Geoffrey (ed), World Religions Ancient History To The Present (New York: Facts On File Publication, 1971) 321

[5] Hao juga merupakan bakti anak terhadap orangtu, yang dalam kata mandarin dirangkaikan dengan kata tua dan anak. Semestinya secara logis penghormatan seperti itu dilakukan pada saat mereka masih hidup, sebab apabila sudah mati, boleh dikata tidak ada gunanya. Apalagi di saat mereka hidup si anak berlaku kurangh ajar terhadap mereka, baru setelah mati mereka bersikap seakan-akan begitu sayang pada orang tuanya.

[6] Lihat artikel Menyeleksi, Isemani, Setelah itu selesai (2) yang ditulis oleh Dany Suyanto (Jawa Pos, 13 Nopember 1993) 1

[7] Nio Joe Lan, Peradaban Tionghoa Selayang Pandang, 94

[8] Glady Hunt, Pandangan Kristen Tentang Kematian, Jakarta, Gunung Mulia, 1982,101

[9] Yang dimaksud bulan baik di sini adalah bulan tambahan atau lun Gwee yakni bulan yang dalan lunar kalender Tionghoa muncul tiga tahun sekali, itu berarti pada tahun tersebut ada tiga belas bulan.

[10] Dikutip dari buku Nio Joe Lan, Peradaban…………., 182

[11] Ha adalah tanda perkabungan yang dijahit segi empat dengan dua warna dan dilekatkan pada bagian lengan pakaian yang berkabung, warnanya ada bermacam-macam misalnya putih dan hitam, putih dan biru. Pemilihan warna berdasarkan statusnya dalam keluarga tersebut.

[12] lihat Su-Si , Sala, Perhimpunan Agama Konghutju,1967, 396

[13] Kuburan merupakan salah satu kebanggaan bagi orang Tionghoa, sehingga mereka yang kaya tidak segan-segan membeli tanah yang luas hanya untuk membuat kubur bagi orang tuanya. Kuburan Tjong A Fie (salah seoranag kaya jaman dulu di Sumatera), diperkirakan yang paling mewah dan besar, jumlahnya malah lebih dari satu; sehingga kita sulit menentukan mana yang asli. Menurut anggapan orang, ada kemungkinan di dalam kuburnya tersimpan harta benda sehingga dirahasiakan kuburnya yang sebenarnya. (Johan Arifin, Juli 1993)

[14] Tong Huan adalah suatu benda yang terbuat dari ranting-ranting bambu, dan yang memegang benda ini pertanda anak sulung dalam keluarga tersebut

[15] Leng Ceng, bentuknya seperti umbul-umbul, berwarna merah, berisi tulisan nama almarhum dan nama-nama menantu. Leng Ceng ini nantinya diletakkan di atas kubur percis di atas peti mati.

[16] Menurut kepercayan mereka air bunga ini dapat membuang sial, jadi mencuci wajah dengan air bunga diharapkan sial tersebut dapat dicuci bersih

[17] Kong Tiek merupakan suatu ritual yang dilakukan oleh orang Tionghoa untuk mengirim barang-barang dalam bentuk kertas kepada arwah melalui bantuan padri.

[18] Biasanya mereka merayakan Tjeng Beng lebih awal, sebab ada ketakutan tidak mendapat rejeki bila ziarah tepat pada harinya. Untuk pembersihan kubur, misalnya cabut dan sebagainya, sudah dilakukan oleh anak-anak desa setempat sehingga mereka hanya membayar ongkosnya (Lily, 09 Januari 1994 dalam sebuah percakapan)

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: