Open Doors Luncurkan “A Journey of Forgiveness” Kisah Tragis Para Siswi Kristiani Poso yang Tewas

Open Doors

Open Doors akan segera meluncurkan film terbaru berjudul, “A Journey of Forgiveness”. Film ini berdurasi 20 menit dan menampilkan dokumentasi kesaksian dibawakan oleh Anna Scott yang bertemu dengan ibu dari 4 gadis-gadis di Poso yang diserang dan dibunuh secara keji. Tiga dari gadis-gadis ini tewas.

Film yang diproduksi dengan misi yang ditujukan untuk mengajak gereja-gereja lainnya untuk “bangun” dan dapat bertemu langsung dan berinteraksi dengan gereja-gereja yang teraniaya melalui film pendek yang terdapat dalam salah satu Encounter film yang berjudul “Forgiveness” ini.

Pendiri lembaga misi Open Doors, Brother Andrew menyampaikan pesan tentang esesi pengampunan di awal film. “Pengampunan adalah inti dari pesan Injil. Saya menjadi pengikut Kristus karena Tuhan telah mengampuni saya. Tidak ada hal lain, bukan karena pertobatan saya, bukan karena tangan yang terangkat dan doa pengakuan dosa yang saya ucapkan. Tidak ada hal lain yang membuat status saya berubah menjadi anak Tuhan selain Tuhan telah mengampuni dosa saya dan IA telah melakukannya 2000 tahun yang lalu saat Yesus tergantung di atas kayu salib. Yesus telah mengangkat semua dosa saya, memakukannya di atas kayu salib dan IA berpesan, pergi dan lakukan hal yang sama,” katanya.

Seperti yang seringkali dikatakan Brother Andrew, gereja yang teraniaya belajar mengampuni karena mereka terus menerus mengampuni, hal ini terjadi begitu sering, mereka melakukannya setiap hari, Film A Journey of Forgiveness menceritakan perjalanan rohani dua orang ibu yang berduka, dari kebencian menuju iman dan pengampunan. Noviana Malewa, satu-satunya gadis yang terluput dari peristiwa mengerikan itu juga turut menuturkan kesaksiannya lewat film ini.

Ekspektasi yang diharapkan melalui film tersebut adalah bukan hanya dijadikan sebagai salah satu program “nonton film bersama” bagi gereja. Namun diharapkan film itu dapat dapat mengajak orang Kristiani dari gereja yang masih relatif bebas untuk berjumpa langsung dengan gereja yang teraniaya dan “menghadapkan” gereja-gereja untuk bisa merasakan dan menggugah empati serta menggugah refleksi mereka tentang bagaimana mereka meresponi apa yang dialami oleh gereja-gereja yang teraniaya dan bagaimana yang instant tetapi ada proses yang dijalani dan bahwa tidak naïf dan secara jujur sebagai manusia biasa juga mempunyai perasaan sakit dan ingin membalas dendam, namun melalui proses mereka berusaha untuk mengampuni para penganiayanya.

Film Forgiveness ini juga ingin memberikan pembelajaran juga bagi gereja-gereja di Indonesia akan pentingnya suatu proses pengampuanan dan untuk mengajak orang Kristen untuk “encountering” untuk berjumpa langsung dengan gereja teraniaya melalui film pendek tersebut dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam alur cerita dan menggugah hati serta empati mereka.

Ketika ditanya apakah ia telah mengampuni orang-orang yang menyerang dan membunuh kawan-kawannya, Novi menjawab: “Sulit untuk bisa memaafkan apa yang telah mereka lakukan … mereka membunuh kawan-kawan saya dan mencoba membunuh saya. Tapi ayat Firman Tuhan muncul dalam hati saya, kasihilah musuh-musuhmu, berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu. Sampai sekarang, saya masih sering merasa marah, tapi itu justru membantu saya untuk berdoa bagi mereka.”

Akhir dari film Forgiveness ini akan menyisakan sebuah pertanyaan besar bagi setiap orang yang menontonya yakni “Mampukah kita mengampuni orang yang telah menganiaya kita?”

Mengajak untuk berjumpa, dikuatkan, dan diberkati adalah apa yang akan dirasakan setelah menonton film Forgiveness ini. Namun melalui film tersebut bukan hanya sekedar selesai menontonnya tetapi selanjutnya juga mengajak semua gereja untuk merefleksikan dan merenungkan apa tindakan nyata dan kontribusi yang dapat gereja lakukan bagi gerej-gereja yang teraniaya.

Film ini diakhiri dengan refleksi – refleksi yang menjamah hati para penontonnya, “Ketika kita menolak untuk mengampuni, kita menghukum diri kita sendiri dan membuat hidup kita menjadi hidup yang penuh amarah, membuat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama menjadi rusak, kita kehilangan hubungan yang dekat dengan Tuhan. “Namun ketika kita mengampuni, kita melepaskan sesuatu dari dalam diri kita, dan membuat kita menjadi bebas. Tuhan ingin kita terus bertumbuh hingga kita dapat mengampuni betapapun hal itu sangat sulit bagi kita,” kata Open Doors.

Open Doors Indonesia juga akan memberikan presentasi terhadap film Forgiveness kepada gereja-gereja yang mengundang mereka untuk dapat menyaksikan film Forgiveness ini yang rencananya akan diluncurkan sekitar bulan Agustus mendatang. Bagi gereja yang berminat untuk menyaksikan film tersebut dapat mengirimkan email ke : indonesia@od.org

(kristiani pos)

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: