Gubsu dan Wagubsu Terpilih Masa Bakti 2008-2013 Hari Ini Dilantik

H Syamsul Arifin: Emak Bilang Maju, Saya Maju

BAGAIKAN di persimpangan jalan. begitulah awalnya posisi H Syamsul Arifin SE. Tak heran delapan bulan lalu, ketika sejumlah komponen masyarakat memintanya mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut masa bakti 2008-2013.

Putra Melayu sahabat semua suku ini bingung. Apakah dia harus maju atau tidak. Silih berganti perasaan yang muncul. Di satu sisi, jiwa pengabdiannya sontak bangkit menyahut desakan masyarakat.

Namun di sisi lain, kata Syamsul, alam bawah sadarnya berbisik.Namun di hatinya suara itu terdengar sangat kuat. Jangan main-main… Mendengar bisikan ini, Syamsul yang Bupati Langkat ini pun mengaku agak ciut hatinya.

Setelah berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, Syamsul gelar Datuk Sri Lelawangsa Hidayatullah ini merenung sementara waktu terus bergerak dan Syamsul harus segera menentukan sikap, maju atau tidak.

Di tengah kegalauan hatinya inilah, saat menjelang masa pencalonan, ayah dari tiga anak dan suami dari Hj Fatimah Habibi ini mendatangi ibunda nya tercinta, Hj Fadlah di kampung halamannya Pangkalan Brandan, dan “melabuhkan” kegalauan hatinya.

“Begitu jumpa dengan emak, hati saya rasanya tenteram. Segala kebingungan dan kegalauan itu pun hilang. Sejuk rasanya hati ini. Emak saya bilang, banyak orang datang kepadanya minta saya agar memimpin Sumut. Saat itu saya diam saja. Tak berapa lama kemudian, permintaan tersebut semakin banyak lagi datang. Kemudian emak memerintahkan kepada saya, ‘Kau ambillah itu, Pin…’,” tutur Syamsul Arifin mengisahkan dialognya dengan ibundanya yang tercinta.

Atas perintah ibundanya itu, kata Syamsul semangat pengabdian yang sebenarnya sudah tumbuh kuat pada dirinya sejak kecil namun sempat ragu akibat beratnya tantangan yang akan dihadapi apabila menjadi Gubsu.

“Meski begitu, saya bilang kepada emak, ‘Apa mungkin saya menang, Mak?’ Insya Allah, kau menang. Ucapan itu kemudian berulang disampaikan emak kepada saya dalam berbagai kesempatan,” ujar mantan Ketua KNPI Sumut kelahiran 25 September 1952 ini saat berbincang dengan wartawan di rumah dinas Bupati Langkat di Stabat.

Wartawan sengaja datang sekitar pukul 05.30 WIB, terpaut beberapa saat setelah waktu Salat Subuh. Sebagaimana biasa, Syamsul Arifin selaku Bupati Langkat selalu mengawali kerja setelah Salat Subuh di ruang kerja di rumah dinasnya. Mengenakan kain sarung dan kemeja seadanya, terkadang memakai kaos oblong, Syamsul sudah aktif mempelajari berkas-berkas di meja kerja.

Ajudan sudah sibuk. Sederetan staf dan pejabat maupun masyarakat yang berurusan sudah “antri”, semuanya diterima oleh Syamsul. Menjelang waktu apel pagi, semua urusan kelihatan selesai. Masyarakat yang ”antri” tampaknya juga tahu diri. Sekitar pukul 07.00 WIB, Bupati sudah siap menuju kantornya. Ketika ditanya wartawan, Syamsul mengemukakan kebiasaan kerja seperti ini juga akan diterapkannya setelah menjadi Gubsu.

Sumber Inspirasi

Syamsul mengemukakan, ibudanya inilah sosok motivasi utama dan sumber inspirasi yang menguatkan semangatnya untuk menerima permintaan banyak pihak agar dirinya komit maju mencalonkan diri menjadi gebernur. Dengan kata lain, ibundanya inilah figur sentral yang berada di belakang motivasi suksesnya.

“Emak yang memotivasi saya mampu mengemban amanah ini. Kalau saya bilang ratusan kali mungkin bohong, tapi kalau puluhan kali saya kira ada emak meyakinkan saya jika ikhlas dan berserah diri ke hadirat Allah SWT maka Insya Allah, saya menang. Itulah sebabnya dalam pencalonan ini saya tenang saja, karena cakap emak sudah keluar, Insya Allah, saya diridhoi Allah SWT memimpin Sumut jika itu memang baik kepada diri saya dan masyarakat,” ujarnya.

Syamsul Arifin yang kemu dian maju berpasangan dengan Gatot Pujo Nugroho ini mengaku ucapan emaknya yang berulang-ulang itulah yang selanjutnya membuat bathinnya ikhlas terhadap apapun hasil Pilgubsu. Itu pulalah yang membuat dirinya pada masa pencalonan bersikap wajar-wajar saja, tidak sibuk bagi-bagi sembako dan tidak melakukan rekayasa subjektif.

“Saya sadar betul saya ini tidak ada apa-apanya. Sebab itu, saya ikhlas saja. Semuanya tergantung kepada kehendak Allah SWT dan yang memilih saya adalah masyarakat secara langsung. Jadi saya jalani saja secara wajar dan apa adanya. Alhamdulillah, saya mendapat amanah dan saya harus mengem bannya dengan penuh tanggung jawab,” tuturnya.

Ikhlas Mengabdi

Syamsul Arifin tetap sebagai Syamsul Arifin yang dikenal masyarakat sebelumnya, tidak ada yang berubah, ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Bahkan, dari 28 kabupaten/kota di Sumut, pada 12 daerah yang tidak masuk kampanye, pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) ternyata memperoleh banyak suara. Bahkan 5 daerah di antaranya Syampurno menang secara signifikan di atas 30 persen.

“Jadi doa restu orangtua itu memang luar biasa. Dengan restu emak, saya bisa tenang menghadapi Pilgubsu. Malah sekarang ini, setelah menang, saya yang jadi takut. Saya takut kepada Allah SWT, apakah saya bisa melaksanakan tugas ini? Namun saya rasa, ketakutan ini sifatnya manusiawi. Saya dan Gatot bukan ingin gagah-gagahan,” ujarnya.

Sebab itu, lanjutnya, dia tetap mohon dukungan dari masyara kat agar tetap ‘mengawal’ dirinya bersama Gatot agar ikhlas memimpin Sumut atas dasar pengabdian dan dijauhkan dari berbagai macam penyakit hati di antaranya iri, dengki, khianat, fitnah, tamak, sombong, angkuh, takabur dan ria. Apakah yang datangnya dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain.

Saat ditanya apa reaksi ibundanya setelah dirinya terpilih menjadi Gubsu, Syamsul Arifin mengemukakan, “Emak biasa-biasa saja. Dia hanya mengatakan, ‘Kerjakan aja tugas ini secara baik, ingat kepada Allah’. Jadi tidak ada sikap berlebihan dari emak.”

Syamsul Arifin mengakui dalam perjalanan hidupnya terasa sekali restu orangtua sangat dominan mempengaruhi apapun yang dikerjakannya sehingga dia yakin betul restu orangtua sangat diperlukan. ”Bagi saya ini sangat prinsip. Saya tidak pernah melihat ’orang besar’, termasuk presiden sekali pun, yang tidak hormat kepada orangtuanya. Jenderal-jenderal teman saya pun, semuanya saya lihat memiliki hubungan bathiniah yang kuat dengan orangtuanya,” katanya

Bagi Syamsul Arifin ada tiga perintah yang mengamanahkan manusia untuk menghormati dan menyayangi orangtua. Pertama, perintah Tuhan sudah tegas agar manusia menyayangi orangtua, kedua perintah adat dan yang ketiga perintah orang-orang terdidik. “Ini yang saya pedomani dan lakukan, Tuhan memerintahkan kita menyaya ngi orangtua, adat juga begitu, orang-orang terdidik juga memerintahkan hal itu,” tuturnya.

Menurut Syamsul Arifin yang bupati pertama dari kalangan swasta dan dua periode memimpin Kabupaten Langkat ini ada kenikmatan dan kebaha giaan tersendiri yang secara bathiniah sangat dirasakannya dengan menyayangi orangtua nya.

”Barang kali orang yang terdi dik, yang secara materi mencu kupi, sudah memiliki apa saja, ilmu harta, pangkat, yang menurut kita terlihat cukup akan sangat merasa kehilangan jika kedua orangtuanya sudah tiada. Saya, ayahanda saya sudah berpulang ke Rahmatullah. Kini hanya tinggal emak. Meski saya juga harus siap menerima apa kemungkinan ke depan, tapi jujur saya katakan, selalu ada ketakutan kehilangan orangtua. Ini mungkin manusiawi, namun ketakutan itu selalu ada,” ujar Syamsul dengan mata berkaca-kaca sembari mengemukakan oleh sebab itulah dirinya terus berupaya semaksimal mungkin membahagiakan ibundanya tercintanya itu.

Sumber : Harian Analisa

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: