Harapan bagi Seorang Bapa

Oleh
Pdt Saumiman Saud

Hari ini kita memperingati Father’s Day, saya ucapkan selamat kepada para bapa. Fathers’ Day berasal dari Amerika, lahir dari satu ide Henry Jackson yang ingin menyatakan penghargaan atau apresisasi terhadap para ayah. Ide itu dimulai dari kampung halamannya dan menjadi suatu kebiasaan yang kemudian berkembang ke daerah-daerah lain.
Tahun 1972, pemerintah Amerika menjadikan tradisi ini menjadi hari nasional. Hingga hari ini, setiap Juni minggu ketiga dirayakan sebagai Father’s Day.
Perumpamaan tentang “Anak yang hilang” menggambarkan tentang kasih dan sikap Bapa yang di Sorga terhadap anak-anak-Nya. Hal ini disebabkan sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak bisa menerima pelayanan Yesus terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa.
Dalam hal ini, Yesus ingin membenarkan tindakan-Nya dengan menggambarkan bagaimana sikap Allah terhadap orang-orang berdosa. Coba kita lihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anakNya:

I. Bapa di sorga menghargai hak anak-anaknya
Tatkala si bungsu menuntut pembagian warisan, sebenarnya sang bapa cukup banyak alasan untuk tidak menolak. Sebab pada waktu itu bapanya masih hidup.
Tetapi sang bapa tidak menerapkan prinsip ini terhadap si bungsu, ia tidak mempertahankan kuasanya; justru ia menghargai kebebasan dan hak anaknya.
Dengan suka rela, ia membagikan warisan tersebut pada si bungsu. Hal ini dapat kita lihat dalam Ayat 12 “Ia membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya.”
Demikian juga pada waktu anak bungsu ini hendak menjual seluruh harta kekayaannya dan merantau ke negeri yang jauh, bapanya tidak memaksa anaknya untuk taat kepadanya. Sekali lagi ia memberikan kebebasan yang penuh kepada anaknya. Ini berarti bahwa sang bapa tidak diktator atau otoriter.
Demikian juga Allah Bapa di Sorga, Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya supaya kita taat. Ia menghargai hak kita, oleh sebab itu Ia memberikan kebebasan kepada kita. Oleh sebab itu jangan salah paham, semua dosa yang kita pikul bukan kehendak Allah tetapi kehendak kita yang selalu melawan Tuhan.
Jikalau Allah sudah begitu baik kepada kita, IA menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu, marilah kita memakai waktu, kesehatan, dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang baik juga, sebab apabila sudah tiba waktu penghukuman, Allah Yang Maha Adil akan menetapkan keputusan-Nya berdasarkan kesalahan manusia di dalam mempergunakan kebebasan mereka.

II. Bapa di sorga menanti anak-anaknya dengan setia
Tindakan si bungsu membuat sang bapa sangat sedih dan kecewa. Si bungsu menjual seluruh hartanya lalu pergi ke negeri yang jauh dan di sana ia menghabiskan semua harta milik bapanya dengan hidup berfoya-foya, hidup di dalam dosa dan percabulan akhirnya menjadi miskin.
Menjaga babi merupakan pekerjaan sangat menjijikkan bagi orang Yahudi. Si bungsu kemudian bernostalgia; tatkala di rumah bapanya, makanan berlimpah. Akhirnya ia tidak dapat lagi menahan kelaparannya, maka ia makan makanan babi itu juga.
Sementara itu, sang bapa setia menanti anaknya pulang. Lihat ayat 20a “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya, ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya.” Saya yakin bahwa bapanya tentu tidak berdiri menunggu pada hari itu saja, ia saban hari berdiri di sana.
Bapa kita di Sorga juga demikian, Ia senantiasa menanti anak-anak-Nya yang tidak setia dengan setia, walaupun anak-anak-Nya itu telah jauh dari-Nya. Bapa yang di Sorga selalu dengan tangan terbuka menanti kita datang kembali kepada-Nya dengan setia.

III. Bapa di sorga memberikan pengampunan kepada anak-anak-nya
Ketika si bungsu menyesal, bertobat dan pulang ke rumah; maka bapanya mendapatkan dia, lalu memeluk dan mencium sebagai tanda pengampunan sebelum anaknya mengatakan sesuatu.
Semua ini menunjukkan bahwa sang bapa menyambut dengan hangat kedatangan anaknya dan memperlakukannya dengan sikap yang menghargai.
Lalu dikenakannya jubah yang melambangkan kebenaran, perangai yang suci. Tangannya diberi cincin yang melambangkan hak atau kuasa menjadi anak Allah. Kakinya dipakaikan sepatu yang baru melambangkan seseorang yang kembali kepada Tuhan dan Yesus Kristus telah memberilkan kepada kita darah-Nya yang mulia untuk pengampunan dosa.
Sering kali di surat kabar kita membaca berita yang berbunyinya: “Mulai hari ini, tanggal, bulan dan tahun, anak kami yang bernama, alamat, pekerjaan, tidak lagi kami akui sebagai anak. Oleh sebab itu segala tindak-tanduknya sudah berada di luar tanggung jawab kami. Tanda tangan, orang tua, nama jelas.”
Ini adalah gambaran tentang orang tua yang tidak bisa mengampuni anaknya, tetapi Bapa yang di Sorga tidak demikian. Bapa kita yang di Sorga senantiasa memberikan pengampunan kepada anak-anak-Nya walaupun dosa mereka merah seperti Kirmizi, apabila kita bertobat dan meminta pengampunan dari-Nya, Tuhan akan memutihkannya seperti salju (Yesaya 1 : 18). Luar biasa bukan!
Di dalam 1 Yohanes 1:9 di situ dikatakan “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
Kita belajar dari Allah sebagai Bapa yang penuh pengampunan. Biarlah kita disadarkan bahwa sesungguhnya kita mesti seperti bapa yang demikian. Bagi sang anak, bapa kita juga adalah manusia biasa, kita tidak berhak menyimpan dendam terus-menerus. Biarlah pengampunan terjadi pada Father’s Day kali ini.

Penulis melayani di Gereja Injili Indonesia Seattle, berdomisili di Lynnwood, Washington, dapat dihubungi via email di saumiman@gmail. com dan website http://www.saumiman saud.org.

Tags: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: