Grace Natalie Louisa – Penyertaan Tuhan, Kekuatanku

Cerdas, cantik dan komunikatif. Tiga hal yang harus dimiliki seorang news anchor alias pembaca berita itu melekat pada Grace Natalie. SCTV mengendus potensi itu sejak Grace masih kuliah. Ajang SCTV Goes to Campus mempertemukan mereka. Meski mengambil jurusan akuntansi di STIE IBII, Jakarta, ternyata Grace juga menguasai ilmu jurnalistik. Maka, ia pun memenangi ajang penjaringan presenter berita itu untuk wilayah Jakarta. “Pada dasarnya, aku memang suka ikut lomba. Di akhir kuliah, aku ikut lomba SCTV Goes to Campus, dan aku menang untuk wilayah Jakarta,” kisahnya pada Rumi dari Bahana.

Pembelajar Cepat
Ketika ditandingkan dengan peserta daerah lain di tingkat nasional, perempuan berkulit bersih itu masuk lima besar. Pintu untuk memasuki dunia pertelevisian pun mulai terbuka. Lulus kuliah, SCTV langsung merekrutnya. “Direkrut SCTV ikut aja. Pertimbangannya kalau pun nggak betah masih ada waktu untuk berubah haluan,” kenangnya.
Awalnya, Grace mengaku cukup kesulitan beradaptasi dengan ritme kerja dunia pertelevisian yang sangat dina¬mis. Jam kerjanya tidak seperti orang kantoran. Kadang masuk pagi, jam enam pagi hingga jam 3 sore. Kadang masuk malam, jam 9 malam pulang jam 6 pagi.
Sebagai anak bawang, ia tidak boleh menolak tugas apa pun. Desk berita kriminal menjadi ladang ujinya. “Waktu masih anak baru, harus mau liputan apa pun. Biasanya digembleng lewat berita kriminal karena unsur beritanya (5 W, 1 H-nya) harus jelas,” terang Grace.
Karena televisi lebih mengutamakan bahasa gambar, tak jarang naskah yang sudah susah payah ditulis Grace hanya muncul sekelebat. “Nulis naskahnya bisa satu jam lebih, dibacanya hanya satu menit,” kata Grace yang awalnya sempat merasa kesal itu.
Kadang-kadang, Grace pun menerima teguran langsung dari atasannya. “Dulu, biasanya aku ditelepon atasan karena gambar tidak sesuai dengan naskah. Mengapa gambar yang menarik tidak ditaruh di awal, dsb”. Grace lagi-lagi mengenang awal kariernya itu. Masukan itu dicatatnya baik-baik. Bekal berharga, kelak.

Karier Cemerlang
Lambat laun, ia pun akhirnya jatuh cinta pada dunia jurnalistik. Alasannya, ia merasa lebih berkembang. Lingkungan tempat bekerja sangat mendukung. Ia ditempa dan dibentuk di tangan ahli. Tak hanya itu, pekerjaan sebagai wartawan sejalan dengan hobi travelling-nya. “Aku sangat suka travelling. Aku senang ke daerah dan lingkungan baru sekalipun bukan tempat wisata, bahkan daerah konflik atau bencana sekalipun.”
Dalam kurun waktu tiga tahun, karier jurnalistik gadis cantik itu makin cemerlang. Sempat berpindah-pindah stasiun TV. Dari SCTV ia hijrah ke ANTV. “Aku dengar, ANTV akan gabung dengan Star TV yang berafiliasi ke Forbes. Selain itu, juga karena dulu ANTV dipimpin Pak Karni (Karni Illyas), siapa yang tak tahu beliau?” kata Grace memberi alasan.
Sekarang, ia menjadi pembawa acara Kabar Pasar di TVOne. Berpindah-pindah tempat kerja, pertanda tak loyalkah ia? “Yang aku alami dalam kehidupanku ini semua serba tepat. Termasuk, setiap kali aku pindah kerja. Prinsipku, di mana pun aku berada, berkaryalah sebaik mungkin. Kalau suatu hari Tuhan kondisikan pindah ya pindah. Seperti Abraham yang Tuhan suruh untuk pindah, dia ikut saja,” papar Grace yang selalu menyempatkan diri ke gereja kendati sibuk ini.

Penyertaan Tuhan
Grace merasakan betul campur tangan Tuhan dalam kariernya. Pekerjaan sebagai wartawan mengantarkan ia pada kesempatan langka yang sangat jarang dikecap orang awam. Dari yang menyenangkan hingga menegangkan. Hingga dia pun berujar, ”Kalau bukan Tuhan yang turun tangan jelas nggak mungkin. Kerap kali aku hampir angkat tangan saat menjalankan tugas. Setelah itu, aku lihat Tuhan yang turun tangan. Pekerjaanku pun berhasil.”
Beberapa kali, ia melakukan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh dunia seperti Jose Ramos Horta (Presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes) hingga George Soros. Tak hanya pengalaman menyenangkan, peristiwa menegangkan hingga nyaris merenggut nyawa pun pernah menghampiri hidupnya.
Pasca gempa bumi dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh, aktivitas beberapa gunung berapi meningkat. Termasuk Gunung Talang di Padang yang waktu itu dalam status awas. Setiap saat bisa meletus. Grace ditugaskan untuk meliput. Waktu itu Grace berharap bisa mencapai puncak dan mengambil gambar dengan meng¬gunakan helikopter. Harapan tinggal harapan. Karena semua helikopter tersedot ke Aceh untuk mendistri¬busikan bantuan logistik. “Akhirnya kita (Grace dan kameraman) mendaki mulai dari kaki gunung, jauh dari yang saya bayangkan. Ditambah aku bukan tipe orang yang suka hiking. Perjalanan terasa makin berat. Puncak gunung saja tidak terlihat, tertutup awan,” Grace mengenang.

Pelajaran Indah
Penduduk sudah dievakuasi karena keadaan tak lagi aman. Ajaibnya, seharusnya tak ada lagi penduduk, tapi mereka bertemu tiga pemuda desa dan seekor anjing. Biasanya, insting binatang lebih tajam, tetapi anjing itu tenang saja berjalan. Jadilah mereka penunjuk arah.
Jalan yang ditempuh bukanlah jalan setapak yang semestinya. Mereka harus membuka jalan. “Banyak ilalang dan semak belukar. Jalannya masih belum ada, jadi kita yang buka jalan. Sepanjang jalan pun banyak debu vulkanik,” kisahnya Medan berat sempat menyurutkan semangat Grace dan rekannya. Untunglah, mereka tetap bertahan untuk melanjutkan perjalanan. “Begitu sampai di puncak, angin yang berhembus ternyata mengandung racun. Tapi puji Tuhan angin nggak mengarah ke kita, tapi berlawanan arah. Padahal secara manusia bisa saja kita nggak selamat,” ucap Grace penuh syukur.
Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam dalam diri Grace. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Ketika kita hendak menyerah, Ia turun tangan. “Sebagai manusia aku hanya berusaha maksimal, biar Tuhan yang sempurnakan hasilnya. Makanya ketika kita sok menyelesaikan sendiri hasilnya nggak oke, tapi ketika aku angkat tangan, Tuhan turun tangan,” simpul perempuan yang memercayakan hidupnya pada Tuhan semata ini.

Rindu Pelayanan
Grace memang punya pengalaman khusus dengan Tuhan. Melalui acara retreat yang diikutinya saat masih SD, Tuhan menyapanya. “Waktu kelas enam SD. Yang aku ingat lewat retreat aku menerima Yesus sebagai Juruselamat. Guru mengajarkan Tuhan Yesus itu baik dan mengasihi aku,” urainya mengenang.
“Tapi nggak berhenti sampai SD. Aku lama sekali berdoa agar keluarga juga diselamatkan. Dan, meski lama akhirnya mereka semua percaya Yesus. Aku mengalami firman satu orang diselamatkan maka seisi rumah akan diselamatkan,” ujarnya bahagia.
Sebelum disibukkan dengan pekerjaan, Grace aktif melayani sebagai guru Sekolah Minggu. ”Kurang lebih setahun, aku aktif sebagai guru Sekolah Minggu. Aku memang suka anak-anak. Aku sangat menikmati pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu itu,” tutur perempuan pencinta keluarga ini.
Sayang, sejak bekerja sebagai reporter, pelayanan itu mulai ditinggalkan. ”Dulu aku juga sempat ikut koor, kadang jadi singer. Begitu kerja di televisi, agak ribet ngatur waktunya,” kata jemaat Gereja Kristus Yesus, Sunter ini.
Namun, lanjut Grace, ”Belakangan ini, aku ingin pelayanan lagi. Mungkin pemimpin pujian. Kita lihat saja nanti ya,” ujar Grace tak mau mengum¬bar janji. Ya, kita doakan Grace semoga kerinduanmu segera terwujud.

Sumber : Bahana Magazine

One Response to “Grace Natalie Louisa – Penyertaan Tuhan, Kekuatanku”

  1. Majalah Sinode Says:

    Sukses Selalu Artikelnya benar-benar memberkati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: